Sketsa Ramadhan: Telanjang
- vstory
Seluruh busana fisik yang membungkus tubuh—titel pendidikan, pangkat militer, status kepegawaian, citra ketokohan, dan sebagainya—hanya bisa dipamerkan kepada sesama manusia tetapi tidak membungkus sempurna ketelanjangan hakikat seorang hamba yang bergelimang aib dan dosa di mata Allah Azza wa Jalla.
Mereka yang sadar dirinya sedang--dan selalu--telanjang di depan Zat Mulia Maha Pencipta, akan memilih sibukkan diri membasuh lidah yang kerap salah ucap, dengan mendaras ayat-ayat suci ilahi sesering mungkin dengan abaikan lelah dan godaan malas.
Mereka yang paham dirinya telanjang dalam puncak gunung dosa akan meningkatkan kekhusyukan pada setiap ibadah wajib dan memperbanyak ibadah sunnah agar menjadi anak-anak tangga yang terhampar menuju keluasan langit bertabur rahmat.
Mereka yang mengerti dirinya telanjang dalam gelombang samudera egoisme dan ketamakan, di bulan ini mendapat kesempatan istimewa mengikis keserakahan dengan mencontoh perilaku Nabi yang melakukan ‘kedermawanan lebih cepat dari tiupan angin ( ajwadu bil khair min rihil mursalat)”.
Maka, sejauh mana ketelanjangan diri kita membuat Ramadan--yang sudah berlalu sepertiga—akan memberikan sebesar-sebesar manfaat dan sebanyak-banyak maslahat?
“Iqra’ kitabaka,” bunyi firman Allah di QS 17:14. Bacalah kitab(diri)mu. Tak perlu sibuk telanjangi dan habiskan waktu bicarakan ketelanjangan orang lain. Perhatikan ketelanjangan diri kita sendiri untuk secepatnya diperbaiki, mumpung Allah masih izinkan ruh bersemayam di dalam tubuh kita yang rapuh.