Sketsa Ramadhan: Masjid Isa dan Perawan Maria
- vstory
Dari Melbourne kita pindah ke Madaba—sekitar 32,5 km di selatan ibu kota Amman, Yordania, untuk melihat The Mosque of Jesus Christ (Masjid Yesus Kristus) seluas 1.000 meter persegi yang dibangun pada 2008. Madaba adalah sebuah kota kuno yang pada abad ke-6 pernah menjadi tanah suci bagi Gereja Ortodoks Yunani St. George. Saat ini jumlah umat Kristiani di Madaba hanya sekitar 10 persen dari 60.000 jiwa.
“Untuk mengenang keunikan sejarah kota ini dan sekaligus menghormati Nabi Isa alaihissalam maka saya usulkan agar nama masjid menggunakan nama beliau bukan dalam bahasa Arab namun dalam bahasa Inggris yang lebih dipahami dunia internasional,” ujar Imam Jamal Al Sufrati yang mengelola masjid. Dinding masjid dihias dengan kaligrafi rancak dari ayat-ayat Al Qur’an tentang umat Nasrani seperti nukilan dari Surat Al Hadid (57) ayat 27 sebagai berikut, “Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) Isa putra Maryam; Dan Kami berikan Injil kepadanya dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya.
Berbeda dengan respons jamaah di Melbourne yang sempat terbelalak dengan usulan Imam Isse Musse, usulan Imam Al Sufrati langsung bisa diterima komunitas muslim Madaba yang punya rekaman interaksi antara kedua agama lebih lama. Bahkan di bulan Ramadan, saat masuk salat maghrib dan iftar (buka puasa) ditandai dengan bunyi genta gereja yang berdentam-dentam menyelimuti kota. Sebagian umat Nasrani yang tinggal di sekitar masjid pun bergabung dan ikut buka puasa bersama saudara-saudara muslim mereka.
Pindah ke benua Amerika, di Syracuse New York City berdiri Masjid Isa ibn Maryam (The Mosque of Jesus, Son of Mary) yang beroperasi sejak 2014. Sebelumnya tempat ini adalah Gereja Holy Trinity Katolik Roma yang dijual pengurus gereja karena jemaat yang terus menurun drastis sehingga acara kebaktian lebih sering lengang ketimbang berdesak. Sementara biaya pemeliharaan gedung di kota semahal NYC sangat tinggi.
Begitu pengurus Holy Trinity mengabarkan info penjualan, mereka mendapat dua penawaran. Dari seorang pengusaha bar dan dari komunitas muslim Syracuse. Pengusaha bar memasukkan harga beli tiga kali lebih tinggi. Namun pengurus gereja memilih menjual kepada komunitas muslim. “Supaya nama Tuhan tetap dimuliakan di dalam bangunan itu,” ujar pengurus Holy Trinity.