Membangkitkan Kualitas Tenaga Kerja
- vstory
VIVA – Indonesia memiliki berbagai kekayaan alam yang melimpah. Di samping  kekayaan alam, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Hal ini terlihat dari kondisi bonus demografi yang sedang dialami Indonesia. Sehingga, saat ini jumlah penduduk usia produktif Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk usia non-produktif.
Namun, kekayaan alam dan sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia tak lantas membawa Indonesia menikmati kekayaannya. Alih-alih menjadi negara maju, Indonesia bahkan diumumkan mengalami penurunan kelas menjadi negara dengan penghasilan menengah ke bawah oleh situs resmi Bank Dunia pada Juli 2021 lalu. Meskipun di tahun 2021 Indonesia telah menempati urutan ke-16 sebagai negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di dunia, angka ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan banyaknya jumlah penduduk Indonesia.
Tidak hanya itu, di tengah berbagai kelimpahan sumber daya manusia, Indonesia masih harus mendatangkan tenaga kerja asing untuk dapat mengelola sumber daya alamnya. Meskipun jumlah tenaga kerja asing terus menurun, data Kementerian Ketenagakerjaan per Mei 2021 menyebutkan bahwa total tenaga kerja asing yang ada di Indonesia masih mencapai 95.058 orang.Â
Minimnya Kualitas Tenaga Kerja Indonesia
Tentu saja ada yang salah dengan pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia. Hingga kini, Indonesia masih dikenal sebagai negara pengekspor kekayaan alam dan malah menjadi pengimpor barang jadi. Salah satunya adalah barang plastik yang menjadi barang keempat yang paling banyak di impor Indonesia pada April 2021 lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa impor barang plastik bahkan mencapai US$ 957 juta. Hal ini menunjukkan betapa Indonesia masih belum mampu secara mandiri mengelola kekayaan alam yang dimiliki.
Data BPS pada Agustus 2021 juga menyebutkan bahwa 55,5% tenaga kerja Indonesia memiliki tingkat pendidikan SMP ke bawah. Mereka yang mampu menamatkan pendidikan di perguruan tinggi, hanya mencapai 12,8%. Sebuah kondisi yang cukup miris, sebab kita tahu pendidikan tenaga kerja tentu akan membawa kualitas pekerjaan yang baik. Jika memperhatikan kondisi ini, tak heran jika Indonesia masih akan terus menjadi negara pengimpor barang jadi.Â