Peran Penting Guru PAI dalam Moderasi Baragama di Era Metaverse dan 4.0
- ANTARA FOTO/Ampelsa
Tentu saja, metaverse menyajikan dunia baru yang menggagumkan bagi siapa saja. Namun jangan lupa, seperti teknologi lainnya, dunia baru ini dipenuhi cyber cryme atau kejahatan dunia internet. Tidak hanya organisasi dan perusahaan-perusahaan yang membangun kegiatan di metaverse, namun juga kelompok-kelompok teroris dan juga organisasi terlarang lainnya bisa menyalahgunakan metaverse ini.
Organisasi teroris itu bisa memikat generasi muda dengan lebih gampang lagi. Mereka hanya perlu membungkus ide-ide terorisme dalam balutan teknologi canggih. Tentu saja yang paling menjadi sasaran adalah anak usia sekolah yang pemahaman agamanya masih rendah dengan kemampuan teknologi yang tinggi. Sebagaimana dilansir bahwa organisasi-organisasi teroris telah melakukan pendanaan dengan menggunakan teknologi Bitcoin.
Peran Penting Guru PAI Sebagai Agent of Change Moderasi di Sekolah
Di sinilah peran penting dan krusial guru PAI. Ada 45 juta peserta didik di seluruh Indonesia dari SD hingga SMA yang menjadi tanggung jawab moral guru PAI dengan jumlah guru PAI 182.696 ribu.
Guru PAI harus bisa menguasai teknologi dan inovasi pembelajaran agar bisa mengakses sumber-sumber belajar baru serta selalu berkesinambungan dengan trend-trend pengajaran serta isu-isu terbaru dalam dunia pendidikan.
Guru PAI harus bisa menjembatani dunia mereka dengan dunia generasi Alpha dan generasi " Z" yang saat ini adalah mayoritas peserta didik. Guru PAI adalah penjaga moral dan karakter peserta didik. Selama ini mata pelajaran agama selalu dianggap mata pelajaran nomor dua, padahal melihat kemajuan teknologi yang tidak terbendung dengan segala sisi kelam dan buruknya, mata pelajaran ini menjadi mata pelajaran yang paling penting saat ini.
Guru PAI harus bisa mengajarkan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya yang penuh perdamaian dan jauh dari sifat-sifat kekerasan. Sejak dini peserta didik harus dikenalkan dengan nilai-nilai islam yang benar sehingga mereka tidak terpikat oleh dogma-dogma kekerasan yang ditawarkan oleh pelaku-pelaku terorisme lewat kecanggihan teknologi atas nama agama.
Guru PAI harus bisa mengajarkan bahwa surga tidak bisa diraih dengan mengorbankan nyawa-nyawa orang yang tidak bersalah dan perilaku terorisme bukan bagian dari ajaran Islam. Hal ini sejalan dengan program prioritas Kemenag saat ini yaitu moderasi beragama.