Kebangkitan Pasca Gempa Jogja 2006 dalam Wujud Kebersamaan

Kebangkitan Desa Wisata Teletubbies di Yogyakarta (arsip personal)
Kebangkitan Desa Wisata Teletubbies di Yogyakarta (arsip personal)
Sumber :
  • vstory

VIVA – Tepat 27 Mei 2006 lalu, Yogyakarta diguncang gempa berkekuatan 5,9 skala richter. Penulis masih duduk di bangku SMA saat itu dan hanya bisa galang dana untuk misi bantu sesama. Kabar ribuan orang meninggal dunia, ratusan rumah hancur, dan kepanikan peringatan tsunami membawa kekisruhan saat bencana melanda tanpa direncanakan. Ekonomi yang lumpuh total di Yogyakarta membuat aktivitas tanpa batas terganggu. Namun, nurani masyarakat Indonesia yang berada di pulau lain bergetar untuk saling bantu sesama. Kepekaan sosial pun mulai tumbuh berawal dari sana dengan misi bangkit bersama.

Bahkan, ada salah satu lembaga sosial dari luar negeri yang bantu melakukan pembangunan kembali Desa Nglepen. Desa di Kecamatan Prambanan ini mengalami rusak parah akibat gempa. Salah satu lembaga sosial yang turut bantu sesama berhasil membangun rumah tahan gempa berbentuk ½ lingkaran. Bila pembaca ingat, rumah-rumah tersebut akan mengingatkan pada tempat tinggal yang sering muncul pada serial anak teletubbies di televisi. Akhirnya, Desa Nglepen juga dikenal dengan Desa Teletubbies.

Nyatanya desa unik di Sleman ini mulai dilirik sebagai desa wisata sejak tahun 2009. Para pelancong yang datang bisa menginap secara khusus di rumah yang disewakan dengan luas bangunan 38 meter persegi. Beberapa lainnya juga bisa berkemah di area tenda yang sudah disediakan.

Bangunan-bangunan yang awalnya rata dengan tanah, kini masih berdiri kokoh. Atap rumah sengaja dibuat berbentuk kubah. Konon desain rumah ini bisa membuat bangunan tahan kebakaran dan terjangan angin topan.

Mereka yang pernah kehilangan tempat tinggal, sudah bisa tidur nyenyak kembali. Setiap rumah memiliki dua lantai. Ruang tamu, kamar tidur, ruang makan, dan dapur berada di lantai satu. Sementara ruang keluarga berada di lantai dua. Ada dua pintu rumah, depan dan belakang yang juga memudahkan penghuni keluar masuk. Sementara kamar mandi memang harus terpisah dari bagian rumah dan digunakan bersama warga lainnya.

Penulis mulai membayangkan akan betah tinggal di dalam rumah tradisional ala Suku Eskimo tersebut. Apalagi kalau sudah dilengkapi seperangkat teknologi. Tinggal pasang jaringan internet stabil dari IndiHome, penulis dan keluarga bisa internetan sepanjang hari. Netflix’an bareng keluarga dan menikmati aktivitas tanpa batas lain dengan internet keluarga yang memadai. Jika memang tidak bisa stay lama, setidaknya penulis harus menginap di Desa Wisata Rumah Domes yang dekat dengan Candi Prambanan ini.

Cat warna warni yang menghiasi dinding rumah tentu menarik perhatian. Ibarat TelkomGroup yang punya ragam layanan untuk memberi pilihan demi kepuasan pelanggan. Latar tembok rumah teletubbies ini juga bisa dijadikan spot foto untuk mengabadikan momen selama kunjungan. Istilah anak zaman now menyebut desa wisata yang instagramable.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.