Tantangan Capres, Apakah Masa Depan Ekonomi Indonesia Bisa Mencair?

Ilustrasi dolar AS
Ilustrasi dolar AS
Sumber :
  • vstory

VIVA – Posisi utang luar negeri (ULN)  Indonesia pada akhir Juli 2022 tercatat sebesar 400,4 miliar dolar AS, turun dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar 403,6 miliar dolar AS. Perkembangan tersebut disebabkan oleh penurunan ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) maupun sektor swasta.

Utang negara Rp7000 triliun bagaimana caranya bayar?

Politik ekonomi Indonesia selama ini Jokowi fokus pada BUMN. Mungkin presiden inginkan percepatan proyek-proyek dipimpin oleh BUMN karya. Apalagi infrastruktur.

Sekarang ini utang BUMN pun sudah mencekik leher. What next?

Secara fundamental negara-negara berkembang itu diarahkan untuk ekspor ke negara-negara maju.

Misalnya zaman old produsen eksportir dunia dipimpin Amerika Serikat dan Jerman Itu dulu.

Sekarang ini politik ekonomi Amerika Serikat adalah deficit impor dari Tiongkok. Jadi Tiongkok disuruh produksi segala macam, dibayar dengan US dollars, Amerika tinggal cetak.

Jadi produksi dibayar dengan kertas.

Oleh karena itu, ke depan ini giliran BUMS badan usaha milik 'swasta'.

Repotnya adalah BUMS yang dibina oleh Jokowi adalah yang orientasi dalam negeri. Misalnya pembangunan pembangkit tenaga listrik.

Cara-cara seperti ini menyebabkan utang negara Indonesia semakin tinggi.

Yang seharusnya dibina selanjutnya adalah BUMS ekspor. Misalnya produksi ekspor Indomie, Mayora, B29 Sinar Ancol, ekspor plywood, aluminium, nikel, dll.

Masalahnya adalah, top 10 terkaya di Indonesia tidak memiliki bank. Bank-bank papan atas sudah dimiliki asing.

Contohnya BII Maybank, Niaga CIMB, Danamon Mitsubishi UFJ Financial Group. Panin ANZ, Bank DBS, Bank OCBC, Agriculture Bank of China, Bank China Construction Bank Indonesia Tbk, dll.

Alhasil proyek-proyek investasi yang didukung mereka adalah investasi asing. Misalnya Mitshubisi bank mendominasi pasar leasing kendaraan bermotor Jepang.

Bank-bank China mendukung investor kendaraan bermotor China.

Otomatis peluang bagi capres calon presiden 2024 adalah yang bisa mengatasi kemelut krisis likuiditas moneter Indonesia.

Kepentingan Amerika di Indonesia sebenarnya sangat besar. Batu sandungan mereka adalah terganjal dengan capres 3X yang dulu pernah diembargo Amerika. Upppps

Kedua, Menteri satu Indonesia pun menjadi darling China. Sedangkan China dan Indonesia sedang dirayu maut Putin. Alamak.

Selebihnya kelompok radikal menolak liberalisme, demokrasi, kapitalisme dan oligarki. Wuih.

Apabila ada capres bisa kompromi para pemangku kepentingan tersebut bisa diketemukan, lewat Pakto 88 jadul seperti dulu maka masa depan ekonomi Indonesia bisa mencair.

 

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.