Isu Polemik Pertanian Indonesia

Sumber : pexels.com
Sumber : pexels.com
Sumber :
  • vstory

VIVA – Indonesia adalah negara agraris, istilah yang sudah kita dengar sedari dulu. Seperti cap yang telah disematkan kepada bangsa kita sejak zaman dahulu. Sebutan tersebut tentu bukan dari antah-berantah yang tak bermakna. Negara agraris dilekatkan karena mayoritas penduduk Indonesia bekerja pada sektor yang bertumpu pada hasil bumi. Tak bisa dinafikan bila sebagian masyarakat Indonesia bekerja di sektor pertanian.

Hal ini seirama dengan data Badan Pusat Statistik yang mencatat sebanyak 38,7 juta penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian. Angka ini jauh di atas sektor lainnya seperti sektor perdagangan sebanyak 26,19 juta, sektor industri pengolahan sebanyak 19,17 juta, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebanyak 9,61 juta, sektor konstruksi sebanyak 8,48 juta, sektor pengadaan air sebanyak 0,51 juta, sektor real estate sebanyak 0,45 juta, dan paling sedikit adalah sektor pengadaan listrik gas sebanyak 0,31 juta.

Banyaknya pekerja di sektor pertanian menggambarkan bahwa sektor ini merupakan sektor yang paling menyerap tenaga kerja kita. Namun, apakah kuantitas tersebut sejalan dengan kualitasnya?

Meskipun penyerapan tenaga kerja pertanian sangatlah besar, namun angka tersebut didominasi oleh pekerja usia tua. Selama satu dekade terakhir (periode 2011 dan 2021), tercatat Indonesia telah kehilangan 10% proporsi pemuda yang bermata pencaharian pada sektor ini. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2013, petani Indonesia mayoritas berusia 45 hingga 54 tahun. Hal ini sejalan dengan riset yang dilakukan oleh 577 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menunjukkan bahwa lulusan pertanian memiliki minat yang rendah untuk bekerja pada sektor ini. Angkanya jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan minat untuk membuka bisnis di sektor lain.

Fakta ini menjadi isyarat meskipun pertanian merupakan sektor padat karya namun beberapa tahun ke depan krisis petani akan kita alami. Generasi muda seolah enggan menjadikan profesi petani sebagai cita-citanya.

Profesi petani sejak dahulu memang dipandang sebelah mata, dianggap sebagai profesi yang tidak memberi keuntungan baik dari sisi ekonomi maupun sosial. Petani pun selalu lekat dengan kemiskinan. Kesejahteraannya kadang hanya dijadikan sebagai gimmick politik semata.

Tantangan pertanian masa depan tak hanya berhenti pada krisis regenerasi petani, namun juga pada rantai niaga pertanian yang seringnya merugikan petani. Tata niaga yang rumit dan bertele-tele menjadikan petani tak melulu menikmati berkah apabila terjadi lonjakan harga.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.