Isu Polemik Pertanian Indonesia
- vstory
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) tahun 2020, pola perdagangan komoditas strategis untuk sampai konsumen akhir harus melewati minimal 2 tahapan. Sebagai contoh ialah komoditas beras. Setelah produk selesai pada tahap produsen, produk berlanjut ke tahap distributor lalu berlanjut ke tahap perdagangan eceran, setelah dari pedagang eceran komoditas tersebut barulah bisa dinikmati oleh konsumen akhir. Panjangnya proses distribusi produk pertanian menyebabkan keuntungan lebih banyak dinikmati oleh level distributor/tengkulak atau pedagang eceran.
Petani yang notabene pihak yang menanam, merawat, hingga memanen menjadi pihak yang menikmati laba terkecil. Ditambah lagi kenaikan produk-produk penting pertanian seperti pupuk dan pestisida yang menjadi tanggung jawab petani. Seringkali kenaikan harga pupuk dan pestisida ini lebih tinggi dibanding harga pasar, yang akhirnya menyebabkan petani merugi.
Tantangan lainnya adalah minimnya penggunaan teknologi pada sistem pertanian kita. Teknologi dan pertanian di negeri ini laksana minyak dan air yang sulit disatukan. Petani usia tua yang mendominasi pertanian Indonesia tak mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Teknologi yang seolah berlari begitu cepat sementara pengetahuan dan keinginan untuk belajar petani seolah jalan di tempat. Petani usia tua lazimnya mengandalkan pengalamannya. Padahal, adanya perubahan cuaca dan iklim menjadikan atmosfir pertanian tak sama dengan zaman dahulu.
Bukan hanya persoalan petani usia tua yang sulit beradaptasi dengan perubahan teknologi, kualitas SDM dalam hal ini pendidikan petani juga menjadi faktor kunci. Berdasarkan hasil Susenas Maret 2022, sebanyak 51,65% petani Indonesia merupakan hanyalah lulusan Sekolah Dasar (sisanya bekerja di sektor manufaktur dan jasa). Di mana petani usia tua cenderung enggan bersentuhan dengan teknologi karena teknologi dianggap sebagai sesuatu yang sulit dipelajari.
Usia petani ditambah latar belakang pendidikan petani yang rendah menjadikan inovasi teknologi di sektor ini seakan sulit diterapkan atau hanya memberi dampak relatif rendah. Pemanfaatan teknologi yang sukar diterapkan mengakibatkan gaya pertanian nasional cenderung ke arah metode konvensional. Padahal dengan adanya inovasi teknologi, produktivitas pertanian menjadi lebih tinggi dan dapat dijadikan sebagai penarik minat generasi muda untuk menjadi petani.