ChatGPT - “When Love and Hate Collide”
- vstory
Platform E-Learning bukan sekadar tempat untuk menempatkan materi pembelajaran bagi siswa, tapi juga mengubah bagaimana siswa bisa menentukan pace atau laju belajarnya sendiri sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pengalaman belajar siswa menjadi lebih personal dengan adanya bantuan platform E-Learning ini. Pengajar juga bisa memanfaatkan fasilitas evaluasi pada platform E-Learning untuk melakukan assessment baik itu secara manual, otomatis, ataupun gabungan dari keduanya.
Aktivitas siswa dalam belajar, melakukan pengumpulan tugas, kuis, dan sebagainya yang terekam dalam platform e-learning juga bisa menjadi bahan untuk analisis kemajuan pencapaian pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar seperti ini tentu sangat kontras dengan cara belajar tradisional berbasis buku (kertas) yang terbatas hanya pada interaksi di dalam ruangan kelas (fisik) antara murid dan guru.
Di lain pihak, penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan ini, meskipun memiliki pengaruh yang cukup signifikan, tetap berada pada kapasitas sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar secara keseluruhan. Artinya, keberadaan guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh teknologi-teknologi di atas.
Lalu, bagaimana dengan penggunaan teknologi kecerdasan buatan AI dalam pendidikan?
Ini pun juga sebenarnya bukan hal yang luar biasa, karena kalau kita merujuk pada teknologi kecerdasan buatan yang digunakan oleh mesin pencari Google saat ini, maka sebenarnya teknologi kecerdasan buatan ini pun juga sudah memiliki intensitas penggunaan dan dampak yang cukup signifikan dalam dunia pendidikan.
Jadi, jika dalam beberapa waktu terakhir ini kita mendengar adanya teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT yang digunakan oleh siswa untuk membuat tugas sekolah, esai, atau paper, kita sebenarnya tidak perlu kaget. Itu adalah progresi yang lumrah sebagai dampak adanya perkembangan teknologi. Hanya memang perlu diakui bahwa dengan penggunaan teknologi pemrosesan bahasa alami atau natural language processing (NLP) yang digunakan oleh ChatGPT maka teks yang dihasilkan oleh ChatGPT ini terasa lebih alami, lebih berisi, atau terlihat ‘lebih cerdas’ ketimbang hasil yang diberikan oleh Google search.
Saking ‘cerdasnya’ ChatGPT ini, perusahaan penerbit Springer Nature melakukan kerjasama dengan sebuah perusahaan penulisan kecerdasan buatan dalam penerbitan sebuah buku penelitian yang sepenuhnya ditulis oleh AI. Sebuah artikel di penerbitan berkala Scientific American bahkan membahas percobaan yang dilakukan oleh penulisnya dalam menggunakan model bahasa GPT-3 (Generative Pre-trained Transformer yang digunakan oleh ChatGPT) untuk menulis sebuah makalah akademis tentang dirinya sendiri.