ChatGPT - “When Love and Hate Collide”
- vstory
Yang barangkali perlu diingat bahwa ke semua aspek penggunaan teknologi AI dalam dunia pendidikan seperti di atas harus dilakukan dengan catatan bahwa pengajar dan pelajar yang menggunakan teknologi AI seperti ChatGPT sudah memiliki modal dasar ilmu (knowledge) sesuai dengan bidang masing-masing. Modal dasar ilmu inilah yang akan menjadi benteng terkikisnya pola berpikir kritis dan kreatif (yang sering dikhawatirkan) jika alat bantu berbasis AI seperti ChatGPT digunakan dengan cara ditelan mentah-mentah.
Dengan kata lain, dibutuhkan adanya intervensi manusia yang berkelanjutan dalam hal ini. Diharapkan bahwa dengan cara seperti itu maka penggunaan AI dalam dunia pendidikan dapat dilakukan dengan cara yang etis dan bertanggung jawab.
Kutipan yang diambil dari ngobrol-ngobrol atau chat dengan ChatGPT di bawah ini mungkin bisa memberikan gambaran bagaimana sebaiknya kita menggunakan teknologi berbasis AI seperti ChatGPT; kutipan ini adalah respons yang diberikan oleh ChatGPT ketika penulis meminta ChatGPT untuk menggambarkan dirinya sendiri:
“… I can provide suggestions on grammar, sentence structure, vocabulary, and even generate ideas for writing prompts. However, it's important to keep in mind that ChatGPT is just a tool, and it shouldn't replace critical thinking or research skills … use it as a supplement to your own knowledge and expertise…”
Jadi, seperti halnya berbagai macam teknologi disruptif yang dirasakan oleh manusia sepanjang sejarah perkembangannya, seperti penggunaan api, penggunaan mesin uap, teknologi internet, dan sekarang teknologi kecerdasan buatan, kuncinya semua ada di tangan manusia. Mau dibawa untuk merusak tentu bisa, tapi secara etis tentu akan lebih baik jika semuanya itu digunakan untuk kemaslahatan bersama.
ChatGPT pun juga kurang lebih sama; terlalu mencintainya ("love") bahkan mendewa-dewakannya serta menggunakannya secara ‘membuta’ tidak akan membawa manusia pada kemajuan yang diinginkan, tetapi serta merta langsung membencinya (“hate”), tanpa terlebih dahulu mengetahui secara persis bagaimana seharusnya teknologi ini digunakan, juga sama-sama tidak bergunanya. Di sinilah bagaimana human wisdom atau kebijaksanaan manusia dibutuhkan.
Terakhir, kembali pada lagu “When Love and Hate Collide” dari Def Leppard, maka penggalan liriknya berikut barangkali bisa memberikan penutup: “… You could have a change of heart if you would only change your mind…”