ChatGPT - “When Love and Hate Collide”

Penggalan obrolan dengan ChatGPT. Sumber gambar: © arthead – stock.adobe.com, editing oleh @earw4n
Sumber :
  • vstory

Yang barangkali perlu diingat bahwa ke semua aspek penggunaan teknologi AI dalam dunia pendidikan seperti di atas harus dilakukan dengan catatan bahwa pengajar dan pelajar yang menggunakan teknologi AI seperti ChatGPT sudah memiliki modal dasar ilmu (knowledge) sesuai dengan bidang masing-masing. Modal dasar ilmu inilah yang akan menjadi benteng terkikisnya pola berpikir kritis dan kreatif (yang sering dikhawatirkan) jika alat bantu berbasis AI seperti ChatGPT digunakan dengan cara ditelan mentah-mentah.

img_title Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Mangkir Pemeriksaan KPK, Dipanggil Ulang Kapan?

Dengan kata lain, dibutuhkan adanya intervensi manusia yang berkelanjutan dalam hal ini. Diharapkan bahwa dengan cara seperti itu maka penggunaan AI dalam dunia pendidikan dapat dilakukan dengan cara yang etis dan bertanggung jawab.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kutipan yang diambil dari ngobrol-ngobrol atau chat dengan ChatGPT di bawah ini mungkin bisa memberikan gambaran bagaimana sebaiknya kita menggunakan teknologi berbasis AI seperti ChatGPT; kutipan ini adalah respons yang diberikan oleh ChatGPT ketika penulis meminta ChatGPT untuk menggambarkan dirinya sendiri:

img_title Profil Eva Stevany Rataba, Anggota DPR Masuk Desil 4 Penerima Bansos Hartanya Capai Rp16 Miliar

“…  I can provide suggestions on grammar, sentence structure, vocabulary, and even generate ideas for writing prompts. However, it's important to keep in mind that ChatGPT is just a tool, and it shouldn't replace critical thinking or research skills …  use it as a supplement to your own knowledge and expertise…”

Jadi, seperti halnya berbagai macam teknologi disruptif yang dirasakan oleh manusia sepanjang sejarah perkembangannya, seperti penggunaan api, penggunaan mesin uap, teknologi internet, dan sekarang teknologi kecerdasan buatan, kuncinya semua ada di tangan manusia. Mau dibawa untuk merusak tentu bisa, tapi secara etis tentu akan lebih baik jika semuanya itu digunakan untuk kemaslahatan bersama.

img_title KPK Bongkar Aliran Mobil Mercedes-Benz ke Anggota DPRD Bengkulu Vinna Ledy, Siapa Pemberinya?

ChatGPT pun juga kurang lebih sama; terlalu mencintainya ("love") bahkan mendewa-dewakannya serta menggunakannya secara ‘membuta’ tidak akan membawa manusia pada kemajuan yang diinginkan, tetapi serta merta langsung membencinya (“hate”), tanpa terlebih dahulu mengetahui secara persis bagaimana seharusnya teknologi ini digunakan, juga sama-sama tidak bergunanya. Di sinilah bagaimana human wisdom atau kebijaksanaan manusia dibutuhkan.

Terakhir, kembali pada lagu “When Love and Hate Collide” dari Def Leppard, maka penggalan liriknya berikut barangkali bisa memberikan penutup: “… You could have a change of heart if you would only change your mind…” 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut