Bagaimana Kondisi Kemiskinan di DIY?

Rumah penduduk miskin ekstrem
Sumber :
  • vstory

VIVA – Kemiskinan harus dilihat secara komprehensif dan tidak parsial. Menurut para ahli, kemiskinan bisa dilihat dari aspek individu, aspek sosial, aspek lingkungan dan aspek ekonomi.

img_title Kemiskinan Turun, Ketimpangan Masih Menganga

Aspek Individu

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahwa kemiskinan ditimbulkan karena ketidakberdayaan yang mana merupakan kondisi seseorang yang merasa kurang kontrol atas kejadian atau situasi yang memberi dampak pada pandangan, tujuan dan gaya hidup, faktor usia (lansia), faktor fisik (difabel), faktor kesehatan (kesehatan yang buruk).

img_title Dibayang-bayangi Inflasi, Yogyakarta Hadapi 2023 dengan Optimis

Karena ketidakmampuan, pendidikan rendah, akses pendidikan yang terbatas, keterampilan yang minim dan miskin informasi. Termasuk kategori fakir. Menurut Syekh Allamah Muhammab bin Umar an-Nawawi al-Banteni dalam Kitab Syarah Kasyifah as-Saja Fi Syarhi Safinah an-Naja menjelaskan pengertian fakir adalah orang yang tidak memiliki harta halal dan pekerjaan (mencari nafkah untuk kehidupan) halal. Pengertian fakir lainnya adalah orang yang memiliki harta, tetapi hartanya tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya seumur hidup ketika hartanya dibelanjakan.

Dari aspek individu ini sebagai penciri seseorang yang termasuk kemiskinan ekstrem adalah seorang janda, lansia, sudah tidak bekerja, atau kalau bekerja biasanya di pertanian sebagai buruh tani, sumber air minum dari sumur atau mata air, atau air hujan, rumah berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, atap genting lama, maka selayaknya warga yang demikian mendapat perhatian dari negara, sesuai amanat UUD 45 Pasal 34, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.

img_title Bank Dunia Mengubah Batas Garis Kemiskinan pada Tahun 2022

Aspek Sosial

Karena tekanan budaya seperti gaya hidup konsumtif, budaya “urunan” untuk acara adat dan keagamaan yang bersifat wajib, budaya patriarki, tidak boleh menjual hasil panen. Karena beban sosial seperti jumlah anggaran rumah tangga (ART) yang besar (tanggungan besar  adanya lansia dan anak sekolah), mengandalkan pemberian orang tua, menitipkan anak kepada orang tua yang sudah lansia, memisahkan ART atau orang tua (social exclusion). Karena ketidakberuntungan seperti latar belakang lahir dari keluarga miskin, meneruskan rutinitas orang tua (pendidikan semu), tinggal dalam lingkungan miskin, jejaring social yang terbatas. Aspek social ini seperti lingkaran setan yang akan terulang dan berulang terus, ini yang harus disadari bersama yang berada dalam lingkungan tersebut untuk segera diputus rantai tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut