Serial Warrior dan Akar Rasisme

Poster Serial Warrior, sumber: www.anythinklibraries.org
Sumber :
  • vstory

Rasisme dalam serial Warrior, terwujud dalam sikap anti-Tionghoa, yang diperlihatkan oleh para pentolan Irish Mob, pimpinan Dylan Leary (Dean S. Jagger). Sikap rasis ini pada dasarnya berakar pada ketersingkiran para anggota komunitas Irlandia (Irish), yang mayoritas merupakan pekerja kasar, dalam berbagai lapangan pekerjaan di sana. Para pengusaha atau pemilik modal di San Fransisco, lebih memilih mempekerjakan Imigran Tiongkok sebagai pekerja kasar, karena kerja mereka lebih rajin, dan mau dibayar lebih murah dibanding pekerja kasar imigran Irlandia atau dari wilayah Eropa lainnya.

img_title Persib Menang di Kandang Persijap, Marc Klok Singgung Fasilitas yang Kurang

Sikap rasis ini dimanfaatkan oleh Deputy Mayor (Wakil Walikota) San Fransisco, Walter Buckley, yang akan maju dalam kontestasi pemilihan Walikota, dengan menyebarkan propaganda anti-Tionghoa. Selain itu, diam-diam, ia juga menjalin kesepakatan dengan Mai Ling, yang poinnya adalah bahwa Mai Ling harus menjaga konflik antar geng, supaya tetap berlangsung, dan kondisi perdamaian antar geng tidak akan terwujud. Timbal baliknya, adalah Walter Buckley dengan kekuasaannya, akan membuat para polisi membiarkan geng Long Zii, menguasai jalanan dan bisnis penyelundupan narkoba (opium) di San Fransisco.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam level nasional, saat itu, rancangan undang-undang yang sangat rasis, yaitu Chinese Exclusion Act, dalam proses menuju pengesahan. Chinese Exclusion Act, dalam sejarah Amerika Serikat, adalah undang-undang yang melarang para pekerja migran dari Tiongkok untuk bekerja di Amerika Serikat, selama 10 tahun. Undang-undang ini disahkan pada tahun 1882, dan ditandatangani oleh President Chester A. Arthur (Sumber: archives.gov, diakses 14 Desember 2023).

img_title Bobotoh Semprot Teja Paku Alam meski Persib Menang 2-1 atas Persijap

Dari sebagian alur cerita serial Warrior ini, bisa kita simpulkan bahwa sikap rasis, dan ideologi rasisme, tidak terjadi begitu saja, tetapi karena ada suatu kondisi persaingan antar manusia, akibat sistem kapitalisme. Sistem yang didominasi oleh para pemilik modal ini, sangat berorientasi untuk mengejar keuntungan sebesar-besarnya, dengan modal dan pengeluaran sekecil-kecilnya. Para politisi malah memanfaatkan kondisi ini, dengan mengusulkan pengesahan undang-undang rasis, Chinese Exclusion Act, dengan tujuan untuk menarik simpati para pemilih, dari kalangan imigran Irlandia dan Eropa lainnya, yang punya hak pilih dalam pemilu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut