Mengukur Kebebasan Mengisi Ruang

Kuas dan tinta
Sumber :
  • vstory

Bebas untuk Indonesia tidak sama dengan bebas di Amerika Serikat. Halaman yang bebas diisi apa saja tidak harus bebas seperti tidak terarah. Harus ada batasan-batasan. Harus ada etika dan estetika.

img_title Denny JA Donasikan Seluruh Dana dari BRICS Literature Award untuk Pengembangan Sastra Dunia

Kedua budayawan itu pada akhirnya menunjukkan, keduanya tidak berbudaya dalam mendiskusikan soal kebebasan menulis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Nah, bagaimana bila tiba-tiba kebebasan diberikan kepada masyarakat yang pernah lama hidup dalam ketidakbebasan?

img_title Tren Sastra Kembali di Era Digital, 4 Sosok Ini Bawa Literasi Jadi Gaya Hidup Baru

Puisi saya tentang itu pernah diterbitkan Sinar Harapan tahun 1977, ketika saya dan teman-teman eks Malari diburu-buru Laksus;

DI GUA INI TIDAK ADA NYANYIAN

img_title Denny JA Masuk Daftar 10 Besar Dunia Calon Penerima BRICS Literature Award 2025

KARENA PENGHUNINYA DILARANG MENYANYI

KETIKA DARI LUAR TERDENGAR SUARA NYANYIAN/ PENDUDUK GUA INI JUGA INGIN MENYANYI

SEWAKTU MEREKA MENCOBA UNTUK MENYANYI

TIBA-TIBA DINDING-DINDING GUA RUNTUH

KARENA MEREKA SUDAH LUPA BAGAIMANA CARA BERNYANYI

Kembali pada ruang (space) dan kebebasan (freedom). Sebuah ruang yang digelar untuk diisi, bukan berarti ada kebebasan untuk mengisinya dengan apa saja.

Ruang kelas ya untuk belajar, bukan untuk jualan. Ruang di panggung sandiwara pun dibagi atas sembilan bidang dan setiap bidang memiliki arti tertentu.

Untuk memahami makna sebuah ruang, seseorang yang pernah mengikuti pelajaran Nirmana Ruang (Sense of Space), akan diminta berjalan bebas di suatu tempat imajiner; seperti pasar, galeri lukisan, hingga padang pasir.

Peserta bebas melangkah, tapi setiap langkah disesuaikan dengan ruang yang dilalui. Jika berjalan di pasar tentu berbeda dengan berjalan di galeri lukisan.

Tentu akan berbeda pula jika ia melangkah di padang pasir yang panas. Dan untuk mengerti makna ruang itu, tidak diperlukan seorang moderator. Yang dibutuhkan hanya “rasa”.

Dengan menguasai rasa, seseorang pun menjadi paham di mana ia berjalan, dan bagaimana mengisi sebidang ruang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seekor kodok yang ada di bawah batok kelapa, tentu akan lebih banyak mengetahui ruang yang ada di sekitar batok kelapa. Dan ia tentu saja hanya tahu dan sangat memahami setiap sisi ruangan di bawah batok kelapa itu.

Tapi bagi bebek yang sering berjalan ke berbagai tempat, tentu menilai alam yang ditempati kodok adalah ruang yang sempit. Bebek menilai kodok sebagai makhluk yang hanya tahu dunia di bawah batok kelapa. Apa bebek betul-betul tahu dunia yang ditempati kodok?

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut