Mengukur Kebebasan Mengisi Ruang
- vstory
Bebas untuk Indonesia tidak sama dengan bebas di Amerika Serikat. Halaman yang bebas diisi apa saja tidak harus bebas seperti tidak terarah. Harus ada batasan-batasan. Harus ada etika dan estetika.
Kedua budayawan itu pada akhirnya menunjukkan, keduanya tidak berbudaya dalam mendiskusikan soal kebebasan menulis.
Nah, bagaimana bila tiba-tiba kebebasan diberikan kepada masyarakat yang pernah lama hidup dalam ketidakbebasan?
Puisi saya tentang itu pernah diterbitkan Sinar Harapan tahun 1977, ketika saya dan teman-teman eks Malari diburu-buru Laksus;
DI GUA INI TIDAK ADA NYANYIAN
KARENA PENGHUNINYA DILARANG MENYANYI
KETIKA DARI LUAR TERDENGAR SUARA NYANYIAN/ PENDUDUK GUA INI JUGA INGIN MENYANYI
SEWAKTU MEREKA MENCOBA UNTUK MENYANYI
TIBA-TIBA DINDING-DINDING GUA RUNTUH
KARENA MEREKA SUDAH LUPA BAGAIMANA CARA BERNYANYI
Kembali pada ruang (space) dan kebebasan (freedom). Sebuah ruang yang digelar untuk diisi, bukan berarti ada kebebasan untuk mengisinya dengan apa saja.
Ruang kelas ya untuk belajar, bukan untuk jualan. Ruang di panggung sandiwara pun dibagi atas sembilan bidang dan setiap bidang memiliki arti tertentu.
Untuk memahami makna sebuah ruang, seseorang yang pernah mengikuti pelajaran Nirmana Ruang (Sense of Space), akan diminta berjalan bebas di suatu tempat imajiner; seperti pasar, galeri lukisan, hingga padang pasir.
Peserta bebas melangkah, tapi setiap langkah disesuaikan dengan ruang yang dilalui. Jika berjalan di pasar tentu berbeda dengan berjalan di galeri lukisan.
Tentu akan berbeda pula jika ia melangkah di padang pasir yang panas. Dan untuk mengerti makna ruang itu, tidak diperlukan seorang moderator. Yang dibutuhkan hanya “rasa”.
Dengan menguasai rasa, seseorang pun menjadi paham di mana ia berjalan, dan bagaimana mengisi sebidang ruang.
Seekor kodok yang ada di bawah batok kelapa, tentu akan lebih banyak mengetahui ruang yang ada di sekitar batok kelapa. Dan ia tentu saja hanya tahu dan sangat memahami setiap sisi ruangan di bawah batok kelapa itu.
Tapi bagi bebek yang sering berjalan ke berbagai tempat, tentu menilai alam yang ditempati kodok adalah ruang yang sempit. Bebek menilai kodok sebagai makhluk yang hanya tahu dunia di bawah batok kelapa. Apa bebek betul-betul tahu dunia yang ditempati kodok?