Mengukur Kebebasan Mengisi Ruang
- vstory
Padahal, ruang yang sudah dan pernah diisi sang bebek di setiap perjalanannya, masih ruangan terbatas dalam pandangan mata telanjang seekor elang.
Bagi elang, ruang yang diisi bebek jauh lebih sempit dibanding ruang yang telah diterbanginya. Sebetulnya, ruang yang diisi kodok maupun bebek sama; berada dalam satu bidang tapi keduanya tidak mau melihatnya sebagai bidang yang sama.
Dan sebetulnya lagi, baik kodok, bebek, maupun elang, sama-sama merupakan unsur yang mendukung eksistensi isian ruang. Semuanya bisa dan dapat bergerak bebas di setiap ruang.
Untuk mengisi ruang itu tidak diperlukan moderator. Karena setiap unsur sudah paham bagaimana mengisi ruang secara bebas tanpa merusak kandungan ruang.
Kotak sepatu untuk sepatu, kotak cerutu untuk cerutu, lemari pakaian untuk baju. Sekali-sekali boleh berimprovisasi, kotak sepatu diisi kelereng, kotak cerutu untuk menyimpan surat-surat pacar, dan lemari pakaian diisi uang.
Kebebasan mengisi sebidang ruang, tidak sama dengan memenuhi bidang ruangan itu dengan apa saja asal ruang berisi.
Sebuah gelas di atas meja, tetap merupakan gelas bagi peminum. Tapi bagi seorang pematung, gelas di atas meja adalah isi ruang dan harus dihargai sebagai patung.
Namun, ketika gelas itu diangkat dari tempatnya, maka meja itulah yang harus dinilai sebagai sebuah patung. Komunikasi yang terbentuk saat itu, gelas dan meja sama-sama mengisi ruang dan sama-sama berkohesi terhadap ruang.
Artinya, setiap ruang ada peruntukannya dan setiap isi ruang ada maksudnya. Karena itu sangat tidak bijak bila membiarkan ruang yang sudah terbentuk menjadi ruang yang tidak berbentuk. Apalagi menjadikan ruang yang tersedia ke bentuk yang bukan untuk peruntukannya. (Afrizal Anoda, Penulis tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan)