Deteksi Detektif Komar

Ilustrasi detektif
Sumber :
  • vstory

"Baik, Pak. Terima kasih. Menurutku pelakunya adalah.." Aku menatap ke seluruh ruangan. Ada yang menunduk, tercengang, kaget dan sebagainya, bercampur menjadi satu. "Pelakunya adalah salah seorang di antara perempuan." Semua kaget setelah aku berkata demikian. Karena kenakalan seperti itu hanya dilakukan oleh laki-laki, kok bisa yang disalahkan perempuan?

img_title Mees Hilgers Tak Diberi Kesempatan Bermain, SC Heerenveen Bungkam NEC Nijmegen

"Saat pulang sekolah kemarin, siswa laki-laki pergi terlebih dahulu ke lapangan untuk bermain futsal. Sedangkan perempuan pergi ke parkiran menunggu jemputan datang." Aku mulai mencari cara agar ada yang mengaku.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kemarin aku beli pentil motor persis seperti yang dimiliki oleh Bu Ane. Warnanya pink dan bentuknya hati. Bisa saja itu diambil oleh perempuan karena identik dengan kesukaannya," Aku mulai melakukan analisa cocokologi.

img_title Sosok AKBP Edy Herwiyanto, Ayah Wali Kota Kediri yang Dicopot dari Jabatan dan Diperiksa Propam: Bukan Lulusan Akpol

"Tapi kau tak bisa menuduh sembarangan, Komar. Hanya karena sebuah bukti yang seperti itu," timpal Dedi, temanku yang berbadan kurus hitam. Harus kukatakan, membuat orang lain mengaku itu cukup sulit.

"Baiklah, kita punya 2 pelaku pada kasus ini." Serentak murid murid mengatakan, "Apa?!" seakan tak percaya dengan analisa bodohku. Kali ini aku mendapat bukti yang cukup kuat. Aku akan menyelesaikan semuanya sekarang.

img_title Mama Amy Qanita Pasang Badan untuk Raffi Ahmad Usai Dihujat, Doa Ibu Jadi Sorotan

"Tenanglah. Apa kalian tahu, sebelum kejadian kehilangan pentil tersebut, di pentil motor Bu Ane aku sudah melumurinya dengan minyak yang baunya kuat sekali. Walaupun dicuci satu minggu, minyak tersebut akan tetap menempel pada jari." Aku mulai menatap sikap kedua tersangkaku.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dapat, akhirnya, "Pelakunya adalah Sarah!" Sambil kutunjuk ke arahnya. "Eh kamu enggak serius kan, masa nuduh aku?" Ia mencoba mengelak. "Aku berbohong ketika kubilang melumuri dengan minyak yang baunya kuat. Dan kau diam-diam mengendus jarimu. Menandakan bahwa kau percaya akan ucapanku dan hendak membuktikannya. Padahal itu hanya jebakan agar kau mau mengaku. Sekarang mengakulah!" Jawabanku menyudutkan Sarah, membuat seisi ruangan terdiam dan terkejut.

Pak guru bertanya, "Apakah benar itu, wahai Sarah?" Sarah mulai gugup, ia menundukkan kepalanya lalu berteriak, "Ya, aku yang mengambilnya. Aku sangat tidak menyukai Bu Ane. Aku tak sengaja menabrak motornya, tapi ia menghukumku dengan memintaku agar membelikannya pentil motor yang bagus. Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya milikku. Tapi sekarang aku tak tahu pentil motor itu di mana." jelasnya sambil menangis tersedu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut