Catatan Perjalanan ke Minangkabau
- Ibrahim Ambong
Dengan kekayaan alam, sejarah, budaya, dan sosial politik telah menimbulkan banyak ilham dan pelajaran bagi banyak orang. Bagi para penulis ini merupakan “harta karung” yang tak ada habis-habisnya untuk diolah.
Dalam perjalanan ke tanah Minangkabau itu, saya memutuskan untuk memilih dan mengunjungi dua bangunan bersejarah yang terkenal. Pertama, Asrama Diniyyah Puteri yang terletak di kota Padang Panjang. Kedua, Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi.
Asrama Diniyyah Puteri
Pertama kali saya mengunjungi Padang Panjang, yaitu pada tahun 1979, untuk menghadiri pernikahan adik saya dengan gadis Minang. Pada waktu itu kota ini masih rimbun dan terasa sejuk karena belum banyak bangunan. Para siswa Perguruan Diniyyah Puteri masih berkerudung, seperti Ibu Fatmawati ketika masih gadis. Kini kebanyakan mereka sudah berjilbab.
Mengapa saya memilih Asrama Diniyyah Puteri sebagai kunjungan pertama ke Minangkabau? Alasan utamanya adalah karena ini bangunan bersejarah yang dilestarikan. Asrama ini merupakan tempat berdiam para siswa puteri untuk bersekolah di Perguruan Diniyyah Puteri, yang berada tidak jauh dari asrama ini. Ibunda isteri saya pernah mengecam pendidikan di sekolah ini.
Asrama ini menyediakan lingkungan yang kondusif bagi para siswa untuk belajar, beribadah, dan mengembangkan karakternya sebagai seorang muslimah. Asrama ini pernah dilanda gempa bumi. Untunglah sekarang terpelihara dengan baik. Dan suasana sekitar asrama terasa sangat damai, bersih, dan terawat. Di depan pintu pagar terdapat pos penjagaan. Sebelum memasuki asrama terpasang monumen yang menandai terbentuknya asrama ini disertai misi yang diembannya.
Dari cerita pengasuh asrama kepada isteri saya, yang meninjau asrama yang berlantai dua ini, kita dapat mengetahui kondisi asrama ini. Jumlah penghuni asrama berkisar ratusan putri. Kamarnya berupa bangsal besar sehingga mudah mengawasi para siswa yang ada di kamar.
Menurut catatan, perguruan puteri dan asramanya ini merupakan yang pertama Asia Tenggara dan bahkan di Asia. Para siswa datang dari berbagai penjuru tanah air dari luar negeri. Terutama dari Malaysia dan Brunei. `
Perguruan Diniyyah Puteri didirikan pada 1 November 1923. Jadi, sudah cukup lama, di masa Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Didirikan oleh Rahmah El Yunusiyah dalam usia cukup muda. Lulusan dari perguruan ini cukup banyak. Salah satu diantaranya pahlawan nasional H.R. Rasuna Said. Nama ini kemudian menjadi nama jalan di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.