Pilkada Mulai Panas, Butuh Pendingin
- VIVA/Ikhwan Yanuar
Waktu mepet timbulkan kecurigaan?
Tanpa mengurangi kualitas, verifikasi KPU dan pengawasan kami, kami tetap lakukan sesuai koridor PKPU yang direvisi ini. Walapun ngos-ngosan, enggak ada libur. Satu hari saya harus keliling 7 parpol bareng ketua KPU.
Kita harus datengin semua, kalau enggak didatengi semua bisa dianggap enggak adil. Nanti jadi masalah karena enggak dikunjugi, Makanya kita pakai motor biar cepat enggak kena macet. Kalau naik mobil d kawal pun enggak bisa, kena macet.
Bagaimana untuk persiapan Pilpres dan Pileg 2019?
Ini tantangan besarnya. Ini pertama kali masyarakat memilih legislatif dan Presiden secara serentak. Masyarakat nanti akan memilih lima kotak suara, nyoblos DPR Kota, Kabupaten. Provinsi. DPR RI, DPD RI dan Presiden. Ini tantangan. Mau enggak mau kami harus siap dengan strategi pengawasan kami.
Diantaranya jangan sampai pembentukan kelembagaan kami telat, jangan sampai ketinggalan. Tahapan jalan pengawasan belum ada akan jadi masalah. Semua kelembagaan saat ini sudah ada dan siap mengawasi.
Kami masih ada PR di beberapa provinsi, kabupaten kota masih transisi ada penambahan anggota Bawslu dari 3 ada yang jadi 5, terus menjadi Bawaslu permanen. Ini proses. Semua Agustus harus selesai. Tetapi dipastikan tidak akan ada kevakuman pengawasan.
Sebagai Ketua Bawaslu ini amanah negara bagaimana kami mengawal demokrasi berjalan dengan lebih baik. Harapan kami pilkada pemilu bukan hanya prosedural, formal saja, pilih-pilih lalu bubar tapi tidak substantif.
Substansi demokrasi adalah keadilan, kesejahteraan. Artinya kami ada nantinya akan terpilih kepala daerah, legislatif dan kepala negara yang amanah dan bisa membawa kemajuan bagi rakyat dan keadilan masyarakat. Itu saya kira obsesi kita sebagai pengawas dan penyelenggara pemilu.
Banyak pengamat yang melihat koalisi Pilpres akan terbentuk dari awal?
Ya mestinya dari awal. Dan yang akan ramai kontestasi di pemilihan legislatif, karena masih menggunakan sistem proposiona terbuka. Jadi orang dengan nomor urut bawah pun kalau suaranya banyak bisa menang terhadap yang nomer urut satu.
Ini harus ada kedewasaan di parpol. Kompetisi di pileg ini biasanya lebih banyak di dalam parpol antar kader. Bukan dengan kader parpol lain. Di satu sisi mereka harus memperjuangkan dirinya dalam pileg, disisi lain harus memenangkan kandidat Presiden yang diusung parpol.