Kini Eranya Kolaborasi Asing dan Lokal
- VIVA/Muhamad Solihin
Dulu Asperindo menginduknya ke Kemenhub, sekarang ke Kemkominfo. Perubahan ini berdampak?
Kalau operasionalnya mungkin lebih banyak berurusan dengan Kementerian Perhubungan, izinnya memang dari Kemkominfo. Tapi buat kita sebenarnya bagaimana pemerintah ini seharusnya bisa melakukan koordinasi antar lembaga, antarkementerian. Karena kan enggak mungkin kita gitu loh yang harus melakukan koordinasi antardepartemen gitu ya. Buat kita tentunya yang kita harapkan adalah bagaimana iklim bisnis itu kondusif buat kami. Jadi jangan kami direpotkan oleh hal-hal yang barangkali tidak seharusnya menjadi porsi kami.
Banyak hal memang kita berhubungan dengan departemen lain. Di jalan raya misalnya dengan Perhubungan itu pasti ada terjadi, gitu. Jadi di sana itu memang ada 2 unsur. Ada masyarakat dari komunikasi, dan masyarakat perposan. Di mana hubungannya kalau saya melihatnya gini, komunikasi itu kan bukan hanya berarti komunikasi kita bicara. Orang berkirim surat pun sebenarnya itu bentuk komunikasi antara individu dengan individu, antara orang dengan orang. Dan ini membutuhkan wadah yang namanya perposan. Jadi irisannya ada.
Lagi tren Revolusi Industri 4.0. Dari asosiasi sudah buat persiapan apa?
Persiapan dalam hal teknologi. Barangkali ini menjadi satu konsen utama kita, bagaimana teknologi yang kita kembangkan bisa menjawab semua kebutuhan dari masyarakat. Khususnya pengguna layanan jasa pengiriman. Kita sudah membuat aplikasi, kita sudah membuat website. Yang bisa interaktif itu adalah keseriusan-keseriusan di mana kita untuk mendukung Revolusi Industri 4.0.
Kalau kemungkinan industri logistik lokal ini menguasai pasar Indonesia dibandingkan asing, ini ada kemungkinan enggak?
Mungkin potret itu justru saya lihat sudah terjadi hari ini. PT Pos makin mendominasi, JNE sekarang masih boleh dikatakan menjadi yang terbaik di masyarakat. Sehingga bagi user sekarang ini kalau mau menggunakan jasa pengiriman JNE.
Jadi memang saat ini, bahkan sudah terealisasi?
Iya, artinya kita sudah melihat bahwa sekarang ini perusahaan lokal yang bisa menjadi pemain di sini itu sudah kelihatan. Jadi belum tentu asing itu kemudian bisa menguasai sini. Karena kan yang mengetahui kultur kita, yang mengetahui geografi kita itu adalah perusahaan lokal.