Provinsi Kepulauan Riau

Sumber :

Alamat : Jl. Basuki Rahmat Tanjungpinang
Kepulauan Riau
Telepon: 0771-318562
Fax: 0771-318588
Email: info@kepriprov.go.id
Website: www.kepriprov.go.id


Provinsi Kepulauan Riau merupakan hasil pemekaran berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002 yang memiliki ibukota provinsi Tanjungpinang. Provinsi ini berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja di sebelah utara, dengan Provinsi Kepulauan Babel dan Jambi di sebelah selatan, dengan Singapura, Malaysia, dan Provinsi Riau di sebelah barat, dan dengan Malaysia, Brunei, dan Provinsi Kalimantan Barat di sebelah timur.  Gubernur adalah Ismeth Abdullah.

Jumlah penduduk sebesar 1,46 juta orang dengan tingkat kepadatan penduduk 15 km2. Penyebaran penduduk sebagian besar masih terkonsentrasi di Kota Batam yaitu sebesar 49,95 persen.

Jumlah angkatan kerja (Agustus 2008) sebesar  666 ribu jiwa yang terdiri dari orang yang bekerja sebanyak 612.667 jiwa dan pengangguran 53.333 jiwa. Sedangkan yang bukan angkatan kerja sebanyak 341.771 jiwa terdiri dari orang yang sekolah 60.596 jiwa, mengurus rumah tangga 249.224 jiwa dan lainnya 31.951 jiwa.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 66,09 persen. Sementara itu Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 8,01 persen.

Jumlah penduduk  miskin pada tahun 2007 sebanyak 149 ribu jiwa (10,30 persen) dimana 48,23 persen berada di pedesaan. Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2008 sebesar Rp892.000. Jumlah penerima BLT (2005) menurut kategori sangat miskin sebanyak 14 ribu jiwa,  miskin  sebanyak 28 ribu jiwa, dan mendekati miskin sebanyak 32 ribu jiwa.

SUMBER DAYA
Luas tanah persawahan adalah 1.792 ha dan lahan bukan persawahan sebesar 770 ribu ha. Luas lahan panen 94 ha dengan jumlah produksi 249 ton dan produktivitas 5,20. Hasil pertanian lainnya adalah palawija dengan luas lahan 1.600 ha dan produksi 1.342 ton, sayur mayur 30 ribu ton, dan buah-buahan mencapai 38 ribu ton. Komoditas perkebunan meliputi cengkeh, kelapa, karet, lada, sagu, dan gambir dengan total luas lahan 95 ribu ha.

Di sektor perikanan, potensi perikanan budidaya terletak di Kabupaten Bintan, Karimun dan Natuna meliputi ikan kerapu, napoleon dan kakap dengan hasil produksi sebesar 217 ribu ton. Potensi budidaya ikan tawar dikembangkan di Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Natuna dengan hasil produksi 3.476 ton.

Potensi pertambangan di Provinsi Kepulauan Riau meliputi bauksit dan timah, sementara di bawah laut terdapat minyak dan gas. Daerah penghasil migas adalah
Kabupaten Natuna. Di sebelah barat terdapat tambang Gas Alam yang sangat besar yang dikelola oleh Conoco Philips dan Star Energy, sedangkan di sebelah timur terdapat potensi minyak bumi yang akan dieksplorasi oleh Pertamina. Jumlah cadangan Bahan Galian di Provinsi Kepulauan Riau terlihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 1
Jenis Bahan Tambang dan Lokasi Eksplorasi

No

Jenis bahan Galian

Kabupaten/Kota

Jumlah Cadangan

1

Minyak Bumi

Natuna

298,81 MMBO

2

Gas Alam

Natuna

55,3 TSCF

3

Timah

Karimun, Lingga

11,4 juta m3

4

Bauksit

Bintan, Karimun, Lingga, T. Pinang

4,95 juta m3

5

Pasir Besi

Lingga, Natuna

 

6

Granit

Karimun, Bintan, Natuna, Lingga

4,2 juta ton

19,7 miliar m3

7

Pasir Darat

Karimun, Lingga, Bintan

16,8 juta m3

8

Pasir Laut

Karimun, Bintan

7,2 miliar ton

9

Kuarsa

Karimun, Natuna, Lingga

84,9 miliar m3

10

Rijang

Natuna

78 miliar m3

11

Kaolin

Lingga

-

12

Batu setengah permata

Lingga

-

KONDISI EKONOMI MAKRO TRIWULAN III-2009

Pada triwulan ini, perekonomian masih mengalami kontraksi 0,43% (yoy). Dampak kontraksi tersebut di sisi produksi, terutama pada  sektor Industri Pengolahan yang diestimasi turun 3,15% (yoy), semakin melambat dibanding triwulan sebelumnya.  Kebijakan tarif listrik juga berdampak negatif, terutama pada aktivitas sektor perhotelan  yang  mengalami  penurunan di tengah lemahnya daya beli masyarakat dan tingkat persaingan bisnis yang semakin tinggi. Hanya sektor Perdagangan dan Pertanian yang mulai tumbuh positif didorong oleh tingginya konsumsi masyarakat selama triwulan berjalan.

Laju inflasi Kota Batam masih  jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. HAl ini disebabkan oleh penurunan harga komoditas primer dan kelancaran supply barang kebutuhan pokok dari wilayah pemasok, juga dipengaruhi oleh faktor tingginya indeks harga pada periode yang sama tahun 2008. 

Laju inflasi tahun kalender (ytd) Kota Batam sebesar 1, 98%,  sementara di tahun 2008 tercatat sebesar 7,76%. Sementara itu, tingkat inflasi headline mengalami sedikit kenaikan dari 2,52% (yoy) di triwulan II 2009 menjadi 2,57% (yoy) di periode laporan. Laju inflasi tahunan kota Batam tetap berada dibawah inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,83%.

Perkembangan pemulihan ekonomi di beberapa negara berdampak pada membaiknya ekonomi domestik, sehingga ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh lebih baik dari perkiraan semula, baik pada 2009 maupun tahun 2010. Pada 2009, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 sebesar 4,0%-4,5%, atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,5%-4,0%. Dan pada 2010, pertumbuhan ekonomi diproyeksi mencapai 5,0%-5,5%.

Laju inflasi di akhir tahun 2009 diestimasi berada diantara 2,67% - 3,56%, jauh lebih rendah dibanding tahun 2008 (8,39%.) Pergerakan harga di kota Batam selama triwulan IV 2009 dipengaruhi beberapa faktor fundamental dan non-fundamental. Faktor fundamental yang mempengaruhi rendahnya tekanan inflasi dari sisi permintaan (demand side) diantaranya adalah penurunan permintaan kebutuhan pokok pasca Lebaran, penguatan nilai tukar Rupiah, dan tren penurunan suku bunga kredit.

INDIKATOR

Tw. III 2008

Tw. IV 2008

Tw. I 2009

Tw. II 2009

Tw. III

2009

PDRB - harga konstan (Rp Miliar)

9.365

9.252

9.082

9.213

9.346

Pertumbuhan PDRB (yoy %)

6,52%

6.69%

-0,89%

-0,44%

-0.20%

Laju Inflasi Tahunan (yoy %) Kota Batam

8,91%

8,39%

6,33%

2.52%

2.57%