Berharap Mukjizat di Nepal
- VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi
VIVA.co.id - Sabtu, 25 April 2015, dunia dikejutkan dengan gempa berkekuatan 7,8 skala richter yang terjadi di Nepal. Gempa yang berpusat di sekitar ibukota Kathmandu itu meluluh lantakan hampir semua bangunan di sana.
Bahkan, gempa turut membuat longsor di wilayah Pegunungan Himalaya dan puncak Gunung Everest. Padahal, di bulan April tengah menjadi puncak musim pendakian bagi para pengadu nyali dari seluruh dunia. Ribuan orang tewas akibat gempa ini.
Selang dua minggu kemudian tepatnya tanggal 12 Mei 2015, Nepal yang baru tengah memulihkan diri dari gempa pertama, kembali dihajar oleh gempa kedua berkekuatan 7,4 skala richter. Jumlah korban jiwa pun terus bertambah.
Data yang dilansir VOA News edisi 31 Mei kemarin menyebut total korban tewas akibat dua gempa Nepal mencapai 8.693 orang, sementara korban luka mencapai 22.221 jiwa. Tak terhitung jumlah warga yang kehilangan tempat tinggal akibat dihantam dua bencana tersebut.
Indonesia pun turut memiliki warga yang tengah bermukim dan berkunjung ke sana. Menurut Duta Besar RI untuk Bangladesh dan merangkap Nepal, Iwan Wiranataatmadja, total terdapat 66 WNI yang diketahui selamat.
Namun, masih terdapat tiga orang di antaranya yang belum bisa dihubungi. Mereka adalah Alma Parahita, Kadek Andana dan Jeroen Hehuwat. Ketiganya diketahui tengah berencana untuk mendaki ke Gunung Everest.
Terakhir, tim SAR dari Spanyol berakhir menemukan identitas Alma yakni berupa SIM dan KTP anggota pecinta alam Taruna Hiking Club (THC) asal Bandung. Menurut Iwan, hingga saat ini belum ada petunjuk lain mengenai keberadaan tiga pendaki tersebut. Kendati sulit rasanya untuk menemukan ketiganya, tetapi Iwan tak ingin menyimpulkan apa pun secara cepat.
"Masih belum ada petunjuk lanjutan. Identitas Alma ditemukan di area Lantang yang kerap banyak berdiri area penginapan sebelum mendaki ke Everest," kata mantan Dubes RI untuk Iran itu yang ditemui VIVA.co.id beberapa waktu lalu secara khusus.
Sementara, menurut seorang saksi mata asal Swiss yang mengaku bertemu pasangan tersebut sehari sebelum gempa mengguncang, keduanya berencana untuk menetap satu hari lagi di sebuah guest house di Lantang.
Tetapi, rencana Tuhan tiada yang tahu. Iwan yang penasaran ingin melihat kondisi di area Langtang akhirnya terbang dengan helikopter ke area setinggi 3.400 meter dari permukaan laut. Area yang semula berdiri banyak penginapan, telah rata dengan tanah dan salju. Namun, sekali lagi Iwan tak ingin banyak berspekulasi, karena asumsi apa pun tidak didukung bukti dan saksi.
"Saya tidak bisa menyimpulkan ketiga pendaki tersebut ikut tertimbun di bawah, sebab tak ada saksi dan data," ujar dia.
Kini, proses pencarian terhadap tiga WNI itu masih terus berlanjut, kendati tim dari Indonesia telah ditarik sepenuhnya kembali ke Tanah Air. Mereka mempercayakan upaya evakuasi kepada otoritas setempat. Indonesia pun telah mengirimkan bantuan kepada Pemerintah Nepal senilai US$2 juta atau Rp26 miliar.
Lalu, bagaimana kisah Iwan yang berupaya menemukan WNI dan menghubungi mereka di tengah krisis bencana? Hikmah apa saja yang dia peroleh ketika baru kali pertama terjun dalam misi kemanusiaan? Berikut perbincangan khusus VIVA.co.id di ruang kerja Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia di kawasan Pejambon, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu:
Bagaimana kondisi Nepal setelah dihantam gempa pertama berkekuatan 7,8 skala richter?
Di Kathmandu, kondisi kerusakan cukup menyebar. Di area kampung-kampung bangunannya terbuat dari tanah liat dan kayu, sehingga mudah hancur jika terkena bencana. Kalau di wilayah kota, bangunan terbuat dari beton.
Justru, hal itu berbahaya untuk warga di area perkampungan, karena bahan bangunan mudah rubuh ketika terjadi gempa.
Ada sebuah peristiwa dari seorang tetangga mengenai kondisi satu keluarga. Sebenarnya, usai terjadi gempa pertama berkekuatan 7,8 skala richter, satu keluarga masih hidup. Keluarga tersebut terdiri dari Bapak, istri dan anak.
Perwakilan keluarga sudah mengatakan melalui ponsel bahwa mereka dalam keadaan baik dan memohon agar tak menggunakan buldoser di area itu. Tetapi, pada kenyataannya berbeda.