Menyigi 'Rumah Pintar' di Indocomtech 2015

Pameran Indocomtech 2015 di JCC
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin

VIVA.co.id - Augmented Reality & Co (AR&Co), perusahaan dari Indonesia menyelenggarakan Augmented Reality and Technology Xperience (ARTX) 2015 di pameran Indocomtech 2015. Pengalaman itu bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat konsep rumah pintar (smart home) dan augmented reality.

“Kami ingin memberikan gambaran yang lebih jelas kepada masyarakat dan pelaku industri bahwa teknologi dapat diaplikasikan di tempat yang paling dekat dengan kita, yaitu rumah,” ujar Director AR&Co, Krisni Lee, melalui keterangan tertulis kepada VIVA.co.id, pada Jumat 30 Oktober 2015.

Ia menambahkan, ARTX juga bertujuan untuk menginspirasi para pelaku industri teknologi mengenai perkembangan teknologi rumah pintar dan augmented reality di Indonesia.

Dalam pameran ARTX di Indocomtech, VIVA.co.id berkesempatan berkeliling bersama Managing Director AR&Co, Peter Shearer. Pada kesempatan tersebut Peter memperkenalkan canggihnya teknologi yang digunakan untuk segala aktivitas di rumah.

Mulai dari kunci rumah yang mereka buat, dengan program yang mengunci rumah bisa dengan scan finger, menggunakan kartu, atau pun PIN. Bahkan ada layar untuk melihat siap tamu yang datang ke rumah.

Lebih canggih lagi, semua program terhubung dengan ponsel pintar (smartphone). Seperti pintu anda tidak perlu jauh-jauh untuk membuka. Lewat smartphone segalanya otomatis bisa ditindak.

“Jika ada tamu yang datang, kita bisa lihat di smartpone, kalau tidak kenal, ya tidak usah bukakan,” katanya.

Ditambahkan bahkan dalam jarak yang jauh, pengguna bisa mendeteksi siapa yang mengunjungi rumah.

“Misal, Anda sekarang di Jerman, rumah di Indonesia, itu kita bisa tahu siapa aja yang datang,” tambahnya.

Lalu, beralih ke perangkat rumah yang digunakan sehari-hari seperti lampu, pendingin udara, televisi. Semua itu bisa diatur penggunaannya lewat smartphone, mematikan dan mengatur cahaya lampu, begitu juga dengan AC dan perabot lainnya.

Untuk ke kamar tidur, terdapat lemari yang hanya seperti kaca besar yang terpajang. Ternyata, kaca 'ajaib' itu berfungsi ketika mau menukar baju, tanpa repot-repot membongkar lemari, kaca itu secara otomatis mencerminkan baju yang dipilih untuk dicocokkan.

“Jadi, nanti ada pilihan-pilihannya, tinggal di klik, otomatis dicocokkan ke badan,” kata Peter.

Peter mengatakan, untuk program rumah pintar, minimal dihargai mulai dari seratus juta.

"Kita menyediakan aplikasi aja, untuk perangkat biasanya pilihan, Samsung atau Intel, kita berkolaborasi dengan mereka,” kata Peter.

Belum laku di Indonesia

Di Indonesia, ujar Peter, belum ada yang menggunakan teknologi rumah pintar dari AR&Co. Kendalanya adalah koneksi internet yang belum baik, karena untuk keseluruhan aktivitas menggunakan WiFi.

“Kenapa di Indonesia pertumbuhannnya lambat, karena membutuhkan koneksi internet yang baik,” jelasnya.

Peter mangatakan, masih banyak kecanggihan lainnya yang bisa digunakan di rumah, seperti smart kicthen, garasi pintar sampai kulkas pintar.

Ini keempat kalinya AR&Co menyelenggarakan ARTX setelah sebelumnya sukses di Jakarta pada 2012, Vietnam (2013) dan Brunei Darussalam (2014).

Untuk pasar teknologi rumah pintar ini, Peter mengatakan, sudah ada cabang di Barcelona untuk pemasaran kawasan Eropa dan Singapura untuk kawasan Asia dan juga ada di Amerika.