Menteri Arif Yahya Akui Kalah dari Thailand

Menteri Pariwisata Arif Yahya
Sumber :

VIVA.co.id – Menteri Pariwisata Arif Yahya meminta semua industri pariwisata di Tanah Air untuk belajar dari Thailand. Negara Gajah Putih itu sangat bersemangat memenangkan perang dalam konteks pariwisata. 

"Mereka hebat sekali. Dari mulai rajanya sampai cleaning service-nya, kalau bicara pariwisata itu hebat," kata Arif Yahya dalam sambutannya saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2016 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Bali, Rabu 20 April 2016. 

Didampingi Ketua Badan Pimpinan Pusat (BPP) PHRI, Haryadi Sukamdani, Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta, pembukaan Rakernas I yang dilaksanakan 20-24 April itu ditandai dengan pemukulan kentongan.

Pada kesempatan itu ia memaparkan tiga hal agar pariwisata Indonesia mengungguli negara lain. Yang pertama adalah spirit atau semangat. Bagi Arif, semangat lebih hebat ketimbang strategi. Strategi saja tanpa semangat baginya tak cukup. "Spirit membuat kita menjadi hebat," tegas dia.

Ia bercerita, pernah suatu ketika terjadi pembunuhan di salah satu destinasi wisata Thailand. Namun, hal itu urung diberitakan oleh media demi Thailand, demi bangsa mereka. 

"Itulah hebatnya mereka. Nanti kita lihat Thailand itu tumbuhnya paling besar. Dan save devisa paling besar. Saya pernah bilang begini, kalau Indonesia punya Bali, maka ASEAN punya Thailand. Karena memang dalam hal peperangan, mereka solid," papar dia.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah soliditas lintas sektor. "Untuk membuat solid, kita juga harus punya common enemy. Kalau tidak, maka musuh kita itu ada. Musuh kita itu bukan kita. Saya bagi dua musuhnya yakni Thailand dan Malaysia. Sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan," ujar Arif.

Bagi dia, dalam setiap hal soliditas selalu yang utama. "Tsun Zu mengajarkan kekuatan soliditas itu adalah bersatu," katanya Arif. Di kawasan ASEAN, negara yang terbaik, menawarkan satu paket pariwisata adalah Thailand. 

"Karena mereka bersatu mulai dari airlines, PHRI-nya Thailand dan paket wisata. Jadi, PHRI dengan pemerintah dan bisnis harus bersatu, solid kalau mau menang bersaing," kata Arif.

Hal kedua yang perlu diperhatikan jika ingin menang dalam persaingan industri pariwisata adalah kecepatan. "Pak Presiden mencanangkan tahun 2016 itu adalah tahun kecepatan. Tiga fokus presiden adalah deregulasi, infrastruktur dan pengembangan bisnis," ujarnya.

Kelemahan bangsa ini menurut Arif adalah terlalu lelet. Bagi dia, dalam konteks persaingan bukan yang besar makan yang kecil. 

"Tapi yang cepat makan yang lambat. Malaysia lebih kecil dari Indonesia tapi kita kalah dari mereka. Kita kalah dari Thailand yang lebih kecil. Bahkan kita kalah dari Singapura yang lebih kecil. Kita lambat," tuturnya.

Untuk itu, Arif meminta kepada PHRI untuk mendiskusikan regulasi apa saja yang dibutuhkan agar dimasukkan dalam paket kebijakan ekonomi ke-12. "Mumpung mau dikeluarkan lagi kebijakan paket ekonomi ke-12 yang bisa mempercepat kita bersaing," ujar dia. 

Hal ketiga yang mesti diperhatikan adalah smart. "Banyak contoh. Apa yang dilakukan oleh Malaysia dan Singapura juga Thailand. Meski mereka musuh kita tapi kita harus tahu. Banyak orang belajar dari kesalahannya sendiri. Tapi mari kita juga belajar dari kesalahan orang lain," kata Arif.