Pasca Brexit, BI: Ketahanan Ekonomi Indonesia Masih Terjaga 

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi/properti.
Sumber :
  • VIVAnews/Fernando Randy

VIVA.co.id – Stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga dan tercermin dari inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali, serta nilai tukar yang relatif stabil membuat Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang baik. Modal ini diyakini mampu menjaga perekonomian Indonesia akibat dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa. 

"Bank Indonesia memandang keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) berdampak relatif terbatas pada ekonomi domestik, baik di pasar keuangan maupun kegiatan perdagangan dan investasi," jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara, dalam siaran persnya yang diterima VIVA.co.id pada Minggu 26 Juni 2016.

Dia menjelaskan, di pasar keuangan domestik saat terjadinya pelemahan mata uang Eropa dan Asia, nilai tukar Rupiah relatif stabil. Sementara itu, pasar saham Indonesia juga mengalami koreksi yang relatif terbatas, terutama dibandingkan dengan negara-negara seperti India, Thailand dan Korea Selatan. 

Sedangkan, dalam jangka menengah lanjut Tirta, BI memperkirakan dampak Brexit melalui jalur perdagangan juga diyakini relatif terbatas terlebih pangsa ekspor Indonesia ke Inggris hanya sekitar satu persen dari total ekspor Indonesia. Kemudian, investasi Inggris hanya berada di bawah 10 persen dari total Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia.

Meskipun demikian, BI mengakui akan terus memantau dampak lanjutan dari terganggunya hubungan perdagangan Inggris dan Uni Eropa. Saat ini, pangsa ekspor Indonesia ke Eropa di luar Inggris mencapai 11,4 persen yang sebagian besar merupakan ekspor bahan baku dan bahan mentah.

"BI bersama pemerintah akan terus berkoordinasi memonitor perkembangan ekonomi global, serta mendukung langkah-langkah meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui penguatan stimulus pertumbuhan dan percepatan implementasi reformasi struktural," ujar dia.