Penjelasan Ilmiah Mengapa Putus Cinta Terasa Menyakitkan

Ilustrasi kandasnya hubungan asmara
Sumber :
  • Pixabay

VIVA.co.id – Putus cinta menjadi hal yang sulit diatasi. Terlebih, putus cinta bisa berdampak pada sakit secara fisik maupun pikiran.

Hal itu dijelaskan oleh antropolog biologis dan penulis Anatomy of Love, Helen Fisher, di mana, ia menjelaskan secara rinci akan perasaan sakit yang kerap dialami usai putus cinta terjadi.

"Anda jatuh cinta terlalu dalam pada kekasih Anda. Saat berpisah, kondisi kecemasan karena berpisah terjadi karena sudah tidak lagi mendengar kabar dari orang itu," ujar Helen seperti dilansir Business Insider.

Menurutnya, kedekatan yang terlampau dalam dengan seseorang tersebut, membuat hati sulit berpisah dari hal-hal yang berkaitan dengan kebiasaan yang sudah terjalin sejak lama.

Selain itu, Halen juga memeriksa bagian otak dari mereka yang patah hati melalui pemindai otak. Hasilnya, didapatkan tiga bagian otak yang aktif saat putus cinta terjadi.

"Otak sudah melalui berbagai kisah romantis dengan pasangan yang membuatnya ketergantungan. Saat putus cinta, otak menjadi aktif karena membuat orang merasa diabaikan oleh seseorang yang disayang," ujarnya menambahkan.

Saat aktif, otak akan memicu rasa frustasi yang dinamakan kondisi Frustation Attraction. Kondisi ini berarti seseorang itu mengalami frustasi karena tidak lagi mendapatkan apa yang ingin ia miliki, dalam hal ini, perhatian dari pasangan.

"Kemudian Anda berusaha keras untuk mendapatkan perhatian itu kembali, yang malah membuat nyeri fisik terjadi," katanya.

Nyeri fisik karena adanya obsesi akan memikirkan hal untuk mendapatkan perhatian kembali. Kemudian juga memberikan rasa sakit secara emosional dari pemikiran yang tidak berhenti, yang membuat otak terus aktif bekerja.