Bolt Pikir-pikir Ikut Lelang Frekuensi 2,3 GHz

Ilustrasi menara BTS.
Sumber :
  • VIVAnews/Muhammad Firman

VIVA.co.id – Pionir layanan 4G LTE di Indonesia, Bolt mengaku masih mendalami apakah akan ikut lelang frekuensi kosong 2,3 GHz yang segera dilelang Kementerian Komunikasi dan Informatika. 

Peserta lelang frekuensi tersebut merupakan operator yang eksisting di spektrum tersebut. Bolt merupakan penghuni lama blok frekuensi 2,3 Ghz sejak merilis layanan 4G LTE pada 2013. 

"Masih belum clear ya (informasi pelelangan). Kami masih menunggu perkembangan bagaimana sampai penerapan atau pemanggilan (lelang)," ujar Head Network Bolt, Ridwan Syarif Siregar kepada VIVA.co.id di Senayan City, Rabu 22 Februari 2017. 

Dia mengatakan pada prinsipnya, Bolt terus mencari dan menambah frekuensi yang dimiliki untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggannya. Namun, untuk saat ini Bolt belum ingin buru-buru ikut dalam lelang frekuensi tersebut.

Menurut Ridwan, frekuensi Bolt yang ada sekarang ini sudah cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Tapi Bolt juga menimbang kebutuhan internet yang dipastikan terus tumbuh ke depannya. 

"Frekuensi sudah cukup, tapi kan kebutuhan orang secepat apa. Nanti ada orang minta akses bisa 1.000 Mbps. Sekarang kami bisa 300 Mbps. Kalau kita bisa kasih 600, 700 Mbps, kenapa enggak ya," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, mengatakan kementeriannya akan melelang pita frekuensi yang kosong pada 2,1 GHz dan 2,3 GHz. Proses pelelangan tersebut dilakukan dalam waktu dekat ini.

Frekuensi yang dilelang pada 2,3 Ghz hanya 15 HMz saja sementara untuk lelang frekuensi pada 2,1 GHz yaitu 2 x 5 MHz.

Rudiantara menegaskan, lelang kosong pada pita frekuensi 2,1 GHz dan 2,3 GHz itu hanya ditunjukkan kepada operator yang sudah berada pada dua frekuensi tersebut. Alasannya, kata Rudiantara, operator yang sudah ada lebih butuh kapasitas lebih di kota-kota besar. 

Sekadar informasi, saat ini pita frekuensi 2,1 GHz yang memiliki total lebar spektrum 60 MHz diisi oleh empat operator, yaitu Tri menempati blok 1 dan 2 (10 MHz), Telkomsel di blok 3, 4, dan 5 (15 MHz), Indosat Ooredoo di blok 6 dan 7 (10 MHz), dan XL di blok 8, 9, 10 (15 MHz). Sedangkan yang kosong ada di blok 11 dan 12, usai ditinggalkan Axis setelah diakuisisi oleh XL pada 2014 lalu.

Sementara itu, di pita frekuensi 2,3 GHz total lebar spektrum 90 MHz, di mana 30 MHz dihuni oleh Smartfren, beberapa pemain broadband wireless access (BWA), seperti Internux (Bolt), sedangkan 30 MHz sisanya kosong.