Suhu Politik Jakarta Pengaruhi Tingkat Okupansi Hotel

Ilustrasi hotel murah.
Sumber :
  • Halomoney.

VIVA.co.id – Tingkat hunian hotel di Jakarta pada kuartal pertama 2017, masih terlihat rendah. Mengingat, dalam periode ini memang belum ada momentum yang bisa mampu mendorong sektor pariwisata di Ibu Kota.

Senior Associate Director Collier International, Ferry Salanto menjelaskan, dari rendahnya tingkat okupansi hotel-hotel di Jakarta itu, sebagian besar umumnya hanya diiisi oleh para pelaku bisnis dan tamu asing, baik wisatawan maupun tamu kenegaraan, seperti misalnya kunjungan Raja Salman di awal Maret 2017 kemarin.

"Di kuartal pertama 2017 ini start-nya rata-rata cukup lambat di awal, hanya sekitar 51 persen. Tetapi, kita akan lihat peak-nya di bulan Mei dan menjelang akhir tahun," kata Ferry di sebuah diskusi kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa 4 April 2017.

Namun, secara rata-rata, hunian hotel di kuartal pertama 2017 ini, memang sudah di atas 2016, pada periode yang sama. Walaupun memang, belum sanggup mencapai tingkat 65 persen lebih tinggi seperti di kuartal pertama 2014.

Ferry menjelaskan, tren keterhunian hotel di Jakarta pada kuartal pertama 2017 ini memiliki korelasi yang kuat dengan situasi dan kondisi politik yang terjadi di ibu kota.

Dia mengatakan, para tamu asing yang menginap di hotel-hotel Jakarta, terutama yang terpusat di pusat bisnis dan pemerintahan tengah kota, nyatanya sangat terpengaruh dengan adanya sejumlah aksi demo besar-besaran dalam periode kuartal satu ini.

Hal ini diakuinya menyebabkan sedemikian banyak pesanan kamar hotel terpaksa di batalkan, terutama di hari-hari aksi demo besar-besaran itu dilakukan oleh sejumlah kelompok.

"Yang menarik adalah bahwa tamu-tamu asing dari luar negeri cukup sensitif dengan banyaknya aksi demonstrasi dan situasi politik yang terjadi di Jakarta. Sehingga, banyak dari mereka yang membatalkan rencana menginapnya. Jadi, market ini memang sangat sensitif terhadap sikon (situasi kondisi) politik," ujarnya. (asp)