Mendag Pastikan Stok Gula Lebih untuk Ramadan

Pabrik gula di Kediri
Sumber :
  • Arief Priyono

VIVA.co.id - Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita memastikan harga dan stok gula terkendali selama Ramadan. Total stok gula dalam negeri mencapai 700-800 ribu ton.

Menteri merinci, stok gula di Perum Bulog sekira 460 ribu ton, sisanya di Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), dan sebagainya. PT Perkebunan Nusantara diharapkan dapat memproduksi gula sebanyak 1,2-1,5 juta ton. Minimal 1,2 juta ton dapat tercapai.

"Dengan 460 ribu ton itu, jangankan Juni, Agustus saja aman. Dan, nanti kan, ada produksi baru yang dari berbagai daerah masuk. Panen sekitar Mei-Juni," ujarnya di Jakarta, Kamis 27 April 2017.

Kementerian Perdagangan mencatat kebutuhan gula masyarakat Indonesia per bulan sekira 250 ribu ton. Ada kenaikan sekitar 10-20 persen sepanjang Ramadan.

"Jadi, kita bulatkan saja 300 ribu ton. Nah, 300 ribu ribu ton dikalikan dua bulan, hasilnya 600 ribu ton. Itu Bulog saja sudah cukup untuk penuhi, karena sudah masuk panen. Belum lagi yang di pabrik-pabrik semuanya. Estimasi kita over (lebih), kok," katanya.

Keterjangkauan stok dan harga gula itu didukung komitmen para distrubutor untuk menjaga rantai pasok. Telah disepakati harga beli gula dari produsen Rp10.900 per kilogram dan untuk pengemasan Rp600 per kilogram.

Dari distributor harga Rp11.900 per kilogram dapat dijual ke pasaran tradisional, atau modern dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp12.500 per kilogram. "Semua pihak mengurangi untung. Pada dasarnya enggak rugi, tapi bagi pengusaha, penurunan untung itu biasa mereka bilang rugi," katanya.

Kendati demikian, ia memastikan para pengusaha berkomitmen mendukung kebijakan pemerintah untuk stabilisasi harga dan pemenuhan stok. "Masyarakat tenang saja. Kita betul-betul kendalikan harga dan stok. Temen-teman pengusaha akan support (mendukung) kita, dan mereka standby buffer stock, untuk disiapkan manakala ada shortage (kekurangan). Bukan 'nimbun'," ujarnya.

Salah satu distributor gula, Direktur PT Indah Lestari, Edi Sutandinata, mengaku berkomitmen mendukung kebijakan pemerintah. "Sebenarnya enggak ada untungnya, tetapi ini untuk kepentingan masyarakat," katanya. (asp)