Ekonomi China Melorot, Bagaimana Nasib Surplus Perdagangan RI?

Ilustrasi Ekspor-Impor
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA – Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal III-2021 tercatat hanya tumbuh sebesar 4,9 persen jauh lebih rendah dari kuartal II-2021 yang tumbuh hingga 7,9 persen. Perlambatan ini disebut-sebut akibat dampak krisis energi hingga krisis utang di sektor properti negara tersebut.

China merupakan mitra perdagangan utama Indonesia. Pangsa ekspor dan impor negara ini ke Tanah Air merupakan yang paling besar. Berdasarkan data BPS, pangsa impor RI 30,89 persennya dikuasai China dan 23,10 persen untuk pangsa ekspor.

Lantas apakah perlambatan itu bisa menekan surplus neraca perdagangan RI yang terus berlanjut?

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, perlambatan ini tidak akan memengaruhi secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia yang sudah 17 bulan berturut-turut mengalami surplus sejak Mei 2020.

"Kami memperkirakan masih berpotensi surplus mengingat prediksi harga komoditas mentah yang diperkirakan masih akan relatif tinggi hingga akhir tahun sejalan kelangkaan yang saat ini terjadi," kata Josua kepada VIVA, Senin, 18 Oktober 2021.

Baca juga: Proyek Kereta Cepat Dikebut Pakai APBN agar Kelar Tepat Waktu

Di sisi lain, dia mengatakan, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi China tersebut, pertumbuhan perekonomi Indonesia juga memang masih akan melambat pada kuartal III-2021. terutama dipicu penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

"Kami memperkirakan perekonomian domestik masih dapat tumbuh pada kuartal III-2021 meskipun ada dampak dari penerapan PPKM darurat di bulan Juli hingga pertengahan Agustus, di rentang 3 – 3,5 persen," tegas dia. 

Adapun dampak dari krisis energi di China sendiri, Josua menjelaskan, juga tidak akan banyak memengaruhi kondisi dalam negeri. Sebab, pemasok batu bara terbesar negara itu adalah Indonesia karena Australia di embargonya.

Ekspor-Impor

Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa

"Ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan energi di China. Sebagai informasi, Indonesia merupakan pemasok terbesar batu bara bagi China saat ini, mengingat Australia di embargo oleh China," papar Josua.

Seperti diketahui, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 surplus US$4,37 miliar. Posisi surplus ke-17 kalinya secara beruntun ini lebih rendah dari catatan Agustus 2021 yang surplus US$4,75 miliar.

Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, surplus neraca ekspor impor ini masih jauh lebih baik. Sebab, pada September 2020 neraca perdagangan surplus US$2,39 miliar.

Kepala BPS, Margo Yuwono menjelaskan, kondisi surplus ini dipicu oleh ekspor September 2021 yang sebesar US$20,60 miliar. Sedangkan nilai impor pada bulan itu mencapai US$16,23 miliar.