Jenazah Korban Amukan Topan Haiyan Dikuburkan Secara Massal

Tim relawan membawa jenazah korban topan Haiyan di Filipina
Sumber :
  • REUTERS/Erik De Castro
VIVAnews - Tim penyelamat mulai menguburkan sekitar 100 jasad korban tewas akibat amukan Topan Haiyan di Filipina bagian tengah akhir pekan lalu. Penguburan dimulai secara massal di sebuah kaki bukit pada Kamis pekan lalu.

Harian Inquirer , Jumat 15 November 2013, melansir ke-100 jasad itu sudah tidak dapat lagi dikenali karena sudah membengkak. Untuk memakamkan ratusan jasad korban tewas itu, hal itu hanya dilakukan oleh empat orang. Salah satunya diketahui bernama John Cajipe dan dibantu tiga remaja pria.

Bersaing dengan waktu di bawah terik panas matahari, mereka bergotong royong menurunkan jasad korban tewas topan yang juga disebut Yolanda itu ke sebuah lubang besar yang sudah digali sebelumnya. Menurut pejabat berwenang, upaya identifikasi sudah dilakukan agar keluarga korban dapat mengetahui nasib orang yang mereka cintai.

Proses ini akan terus berlangsung hingga beberapa minggu ke depan. Namun, tidak diketahui apakah cara pengidentifikasian jasad korban turut dilakukan dengan menggunakan tes DNA.

Menurut Pemerintah Kota, John Tecson Lim, sebuah lokasi penguburan massal lainnya telah disiapkan di sebuah area milik pemerintah di daerah Abucay. Lim menyebut, area itu dapat menampung ribuan jasad korban.


Sementara asisten Menteri Kesehatan, Janet Garin, mengaku butuh waktu lebih bagi Departemen Kesehatan untuk menemukan jasad korban. Hal ini lantaran Menteri Kesehatan, Enrique Ona, lebih memprioritaskan Depkes untuk memberikan peralatan kesehatan kepada pengungsi yang selamat.


"Pengiriman kantong jenazah tertunda, karena Depkes lebih memprioritaskan pengiriman obat-obatan, antibiotik dan peralatan untuk operasi," kata Garin.


Dokter medis dari Amang Rodriguez Memorial Medical Hospital, Emmanuel Bueno, mengatakan Depkes akan mengambil gambar dari setiap jasad dan meminta contoh DNA untuk membantu proses identifikasi jasad.


"Menkes Ona memerintahkan kepada kami untuk memakamkan jasad di sebuah lokasi pemakaman yang layak," ujar Bueno.


Lim menyebut Depkes dan pejabat berwenang sepakat untuk memakamkan jasad korban tewas di Pemakaman Basper.


"Depkes telah mengizinkan jasad itu akan dimakamkan berdampingan dan ditumpuk. Kami akan memastikan bahwa jasad tersebut dimakamkan dengan layak dan akan diberi batu nisan," ujar Lim.


Sulit Identifikasi

Selain 100 jasad yang dikubur di bukit di kota Tacloban, sekitar 200 jenazah lainnya yang juga tidak bisa diidentifikasi, mengantri untuk dikuburkan. Hingga saat ini berdasarkan data dari Dewan Penanggulangan dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional (NDRRMC) pada Jumat, 15 November 2013 pukul 06:00 waktu setempat mencatat, jumlah korban tewas akibat Topan Haiyan mencapai 2.360 orang.


Sementara jumlah korban luka dan hilang, masih sama seperti hari Kamis kemarin, yakni 3.853 orang dan 77 warga.


Jumlah korban tewas berdasarkan data yang diperoleh Badan Bencana Filipina seolah-olah membenarkan pernyataan Presiden Benigno Aquino III. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun berita
CNN
dua hari lalu, Aquino menyebut jumlah korban tewas mencapai 10 ribu adalah sesuatu yang berlebihan.


Menurutnya jumlah korban meninggal akibat bencana topan yang disebut juga Yolanda, hanya berkisar antara dua ribu hingga 2500 orang. Namun, pernyataan Aquino, kembali dibantah oleh seorang pejabat berwenang pada Kamis kemarin.


Pejabat tersebut setuju dengan perkiraan Badan PBB, yang memprediksi jumlah korban tewas di kota Tacloban saja bisa mencapai 10 ribu orang. Menurut Lim, besar kemungkinan jumlah korban tewas akan terus bertambah.


Pasalnya ribuan korban tewas mungkin masih berada di bawah puing-puing reruntuhan bangunan. Selain itu sangat dimungkinkan lebih banyak jasad ikut tenggelam ke laut saat Yolanda mengamuk di bagian tengah Filipina.


Sementara Walikota Tacloban, Alfred Romualdez, berharap ini merupakan kali terakhir dia melihat peristiwa memilukan seperti itu.


"Ketika saya melihat prosesi pemakaman massal, itu mengingatkan saya pada apa yang terjadi sejak hari pertama topan itu mengamuk hingga pengumpulan jasad korban hari ini," kata dia.


Romualdez menambahkan masih banyak jasad-jasad lain yang bergelimpangan di beberapa area. Dan hal itu, kata Romualdez, sangat mengerikan.


Romualdez meminta agar dikirimkan lebih banyak sumber daya manusia dan bantuan baik dari pemerintah maupun organisasi.


"Kami butuh lebih banyak SDM dan peralatan medis," kata Romualdez memohon.


Romualdez menambahkan, dirinya tidak mungkin menggunakan truk yang telah digunakan untuk mengangkut jasad korban di pagi hari, lalu digunakan kembali untuk mendistribusikan bantuan di sore harinya,


"Mari pindahkan semua jasad korban dari jalan-jalan. Jenazah itu menciptakan atmosfir ketakutan dan depresi," kata dia.


Sebenarnya proses pemakaman massal sudah akan dimulai hari Rabu kemarin. Namun, tiba-tiba kegiatan itu dibatalkan, karena terdengar suara tembakan di lokasi pemakaman. (eh)