Armada AL Diperkuat, Rusia Siap Perang Terbuka

Jet Tempur Sukhoi Su-30 SM
Sumber :
  • http://www.artileri.org

VIVA.co.id – Rusia sedang memperkuat Armada Angkatan Laut sebagai langkah antisipasi menghadapi perang terbuka.

Kepala Staf Angkatan Laut Rusia, Laksamana Vladimir Korolev, mengatakan pihaknya mengumumkan akan membangun kapal selam nuklir, Proyek 955A Prince Pozharsky, pada Desember 2016.

"Akhir tahun ini armada kami kembali diperkuat oleh enam jet tempur Su-30SM, dua unit pesawat Il-38, serta 10 helikopter dari berbagai modifikasi," kata Korolev, seperti dikutip situs Express, Kamis, 24 November 2016.

Su-30SM adalah salah satu jet tempur teranyar AL Rusia yang dilengkapi Radar Array yang memakai mesih jenis vektor. Pesawat ini sangat cocok untuk beroperasi di segala cuaca dan misi perang udara ke udara serta udara ke darat.

Penguatan AL Rusia ini bagian dari kebijakan Presiden Vladimir Putin menghadapi ancaman nyata dari Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Ini merupakan sinyal atas ketegangan global menuju era Perang Dingin baru. "Apa yang kami lakukan adalah balasan dari ancaman mereka. Pengerahan rudal balikstik nuklir S-400 dan Iskander ke Kaliningrad, salah satu buktinya," ujar Putin.

Kekhawatiran AS

Sikap agresif Moskow ini diperkirakan menambah kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan dengan AS dan NATO. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby, menyatakan keprihatinannya atas perkembangan militer Rusia.

"Rusia telah membuat ancaman dengan memindahkan rudal Iskander ke Kaliningrad. Kami meminta Rusia untuk menahan diri, baik dari pernyataan maupun tindakan, yang tidak sesuai dengan tujuan mempromosikan keamanan dan stabilitas," kata Kirby di Washington DC.

Kaliningrad merupakan daerah khusus militer milik Rusia yang berada di antara Polandia dan Lithuania. Daerah ini merupakan tempat strategis untuk menyerang Barat.

Sistem pertahanan rudal NATO yang terbaru dan terdekat dengan Rusia berlokasi di Rumania. Satu fasilitas sistem pertahanan ini juga sedang dibangun di Polandia.

Moskow menuding sistem pertahanan misil ini melanggar perjanjian antara Rusia dan AS pada 1987 dan mengancam perdamaian di Eropa. (ase)