Dalam Seminggu, 22 Ribu Warga Rohingya Kabur ke Bangladesh

Polisi Bangladesh menghentikan kendaraan yang membawa aktivis Muslim yang akan mengikuti aksi protes terhadap Myanmar menyusul kematian Muslim Rohingya di Rakhine.
Sumber :
  • REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

VIVA.co.id – Setidaknya 65 ribu orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar.  Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebutkan, hal ini dipicu sejak militer melancarkan tindakan keras di bagian utara Rakhine tiga bulan lalu.

Pengumuman ini datang pada hari yang sama setelah Yanghee Lee, utusan hak asasi manusia PBB untuk Myanmar, memulai kunjungan selama 12 hari untuk menyelidiki kekerasan di perbatasan negara tersebut.

"Selama seminggu terakhir, 22 ribu pendatang baru dilaporkan telah menyeberangi perbatasan dari negara bagian Rakhine. Hingga 5 Januari, diperkirakan 65 ribu orang telah tinggal di kamp-kamp terdaftar, pemukiman darurat dan komunitas masyarakat di Cox Bazaar di Bangladesh selatan," kata pihak badan bantuan PBB dalam sebuah laporan, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa, 10 Januari 2017.

Proses eksodus Rohingya dari Rakhine utara dimulai setelah tentara Myanmar melancarkan operasi pembersihan ketika mencari pelaku di balik serangan mematikan di pos perbatasan polisi pada bulan Oktober lalu. Kelompok hak asasi manusia mengatakan kampanye militer telah dirusak oleh pelanggaran yang sangat parah, dan termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan.

Menyikapi hal ini pemerintah Myanmar mengatakan klaim pelecehan tersebut adalah sesuatu yang dibuat-buat dan komisi khusus telah diluncurkan untuk menyelidiki tuduhan.

Pekan lalu pihak Myanmar juga mengeluarkan laporan yang menyangkal tuduhan genosida dan penganiayaan, dan mengatakan tidak ada cukup bukti yang kuat bahwa pasukan telah melakukan pemerkosaan. Laporan itu muncul beberapa hari setelah muncul video yang menunjukkan polisi memukul warga sipil Rohingya.

Hari Senin ini, Yanghee Lee memulai penyelidikan untuk melihat sendiri kondisi di negara bagian Kachin, di mana ribuan telah mengungsi akibat pertempuran antara pemberontak etnis dan tentara. Lee, yang telah menghadapi ancaman dan demonstrasi pada kunjungan sebelumnya atas komentarnya terkait perlakuan Myanmar terhadap Rohingya, akan mengunjungi Rakhine sebelum tanggal 20 Januari.