Zulkifli Sihombing Menyehatkan dan Menyejahterakan Merlung Lewat Sawit

Dok. Asian Agri.
Sumber :

VIVA – Bermodalkan nekat dan tekad yang kuat, pada tahun 1981, Zulkifli Sihombing atau yang akrab disapa Haji Sihombing memberanikan diri merantau dari tanah kelahirannya di Padang Panjang, Sumatera Utara menuju Merlung, Jambi yang dulunya masih hutan belantara. 

Nasib yang kurang beruntung membuatnya mengambil pilihan tersebut. “Saat itu saya memutuskan mengikuti program transmigrasi yang dilakukan pemerintah (PIR-Trans) merantau ke Jambi untuk mengubah nasib,” tutur Sihombing mengenang keputusannya tiga puluh tahun lalu.

Sebelum menjadi petani kelapa sawit, Sihombing sempat menjadi petani karet, baru kemudian di tahun 1997 ketika ia berkenalan dengan Asian Agri, bapak tiga anak ini segera memutuskan bergabung menjadi petani swadaya yang bermitra dengan perusahaan.

Sihombing melihat peluang bekerja sama dengan Asian Agri saat itu sebagai sebuah kesempatan. “Saya melihat sendiri bagaimana Asian Agri memberi pendampingan untuk petani mitra mereka agar dapat mengurus kebun sawit dengan lebih baik. Kebetulan, almarhumah istri saya dulu juga mendukung saya untuk menjadi petani kelapa sawit, karena itulah saya memutuskan untuk menetap di Jambi dan fokus menggarap kebun sawit,” kenang Sihombing.

Dok. Asian Agri.

Tiga dekade berselang, Sihombing tidak menyesali keputusannya meninggalkan kampung halaman. Menjadi petani kelapa sawit membuat kehidupan Sihombing membaik hingga pada tahun 2006 lalu, ia dapat menunaikan ibadah haji bersama sang istri. Tak hanya itu, ia juga berkesempatan menyekolahkan ketiga anaknya ke jenjang pendidikan tinggi. 

“Berkat menjadi petani kelapa sawit, saya dapat menyekolahkan anak-anak saya ke perguruan tinggi. Anak sulung saya, Sopia Kartika mengenyam pendidikan di akademi kebidanan, anak kedua saya, Patiah Lestari juga sudah lulus kuliah kedokteran dan anak bungsu saya, Syahrizal Pahlevi hingga ke jenjang S2 di Australia,” ungkapnya bangga. 

Kini, anak bungsunya yang sempat bekerja selama 2 tahun di Jakarta telah pulang ke Jambi untuk mengelola bisnis bersama sang ayah. “Ketika saya dipanggil pulang ke kampung halaman untuk menemani ayah, saya memutuskan untuk melepas karir di Jakarta dan membangun bisnis di sini karena bagaimanapun yang paling penting itu adalah keluarga. Kini saya mengelola bengkel suku cadang motor sambil sesekali menemani ayah berkebun sawit,” ungkap Syahrizal Pahlevi. 


Dok. Asian Agri.

Senada dengan sang adik, Patiah, anak kedua Sihombing, setelah menempuh pendidikan kedokteran juga mencoba berwirausaha dengan mendirikan klinik yang berada persis di depan rumah keluarga Sihombing.

“Ayah menginginkan semua anak-anaknya berada di dekatnya, karena itu saya memutuskan membuka praktek persis di depan rumah agar dekat dengan keluarga,” tutur Patiah ketika ditemui di kliniknya yang diberi nama “Klinik Amira Medica”.

Walaupun hasil dari berkebun sawit sudah melebihi ekspektasinya, Sihombing tidak lantas berpuas diri. Ia kini memiliki sejumlah bisnis yang dikelola bersama anak-anaknya, antara lain bengkel suku cadang (spare part) motor dan bisnis hotel yang diberi nama “Merlung Topaz” karena kecintaannya terhadap benih sawit Topaz yang dikembangkan oleh Asian Agri. 

“Keinginan saya membangun hotel ini terinspirasi ketika saya diundang oleh Asian Agri ke Jakarta beberapa tahun lalu. Saat itu saya berpikir bagaimana jika membangun bisnis hotel di tempat tinggal saya, apalagi di sekitar area Jalur Lintas Timur Sumatera, bisnis hotel adalah bisnis yang menjanjikan,” ujarnya sambil tersenyum.

Sihombing kini memiliki kebun sawit seluas lebih dari 150 hektar dan memiliki 50 pekerja yang juga sudah memiliki lahan sawit. “Semua yang bekerja dengan saya sudah memiliki lahan sawit. Saya menerapkan sistem arisan agar mereka juga memiliki pendapatan di luar bekerja dari lahan saya dan agar mereka menjadi lebih mandiri.”

Sawit terbukti telah membuka wawasan dan jiwa kewirausahaan seorang Sihombing, dan kesuksesan yang sama adalah keniscayaan bagi petani sawit  lainnya.