Setelah PBNU, Nadiem Bujuk Muhammadiyah Balik ke Organisasi Penggerak

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. (Foto Ilustrasi)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

VIVA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, mengatakan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah sepakat bersedia kembali ke dalam Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud. Nadiem mengaku masih berdialog dengan Muhammadiyah dan PGRI untuk juga kembali ke dalam program tersebut.

Sebelumnya, tiga ormas besar tersebut memutuskan keluar dari Program Organisasi Penggerak tahun 2020. Mereka menganggap ada kejanggalan dalam proses seleksi dan kekacauan dalam alokasi anggaran POP. Di samping itu, pelaksanaan POP Kemendikbud di masa pandemi COVID-19 juga disorot karena dianggap tidak sensitif.

"PBNU, Alhamdulillah sudah menyetujui untuk kembali ke POP. Harapan kami adalah Muhammadiyah dan PGRI sedang tahap diskusi intens untuk menyelesaikan berbagai macam isu mengenai struktur dan kriteria program organisasi penggerak," kata Nadiem saat rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Gedung DPR RI, Kamis, 27 Agustus 2020.

Baca: Polemik Program OP Kemendikbud, Nadiem dan NU Saling Memaafkan
 
Nadiem menegaskan, Kemendikbud telah memutuskan menunda Program Organisasi Penggerak tahun 2020 hingga tahun depan setelah melalui berbagai pertimbangan. Pada intinya, Kemendikbud merespons kritik dari berbagai kalangan untuk menunda program dengan tiga alasan.

Pertama, untuk memastikan bisa merangkul ormas-ormas besar di dunia pendidikan yang luar biasa pentingnya untuk masyarakat, dengan ilmu dan pengalamannya selama puluhan tahun.

Kedua, untuk memastikan preparasi dari kegiatan itu di masa COVID-19 ini terjaga dengan baik. Dan, memberikan waktu kepada organisasi-organisasi tersebut untuk merencanakan kegiatannya serta transformasi sekolahnya di masa COVID-19 ini dengan lebih detail.

Ketiga, untuk memastikan kecemasan masyarakat dan ormas-ormas jika ada organisasi-organisasi sebelumnya yang lolos padahal tidak layak. Kemendikbud akan melakukan cek ulang dan menverifikasi ulang rekam jejak organisasi peserta sekecil ap pun.

"Jadi masih akan jalan, tapi memberikan waktu kita untuk melakukan berbagai penyempurnaan yang sebagian besarnya masukan dari organisasi-organisasi besar masyarakat," ujar Nadiem. 

Baca: Organisasi Penggerak Ditunda, Nadiem Alihkan Anggaran untuk Pulsa Guru

Sebelumnya, Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim telah meminta maaf pada NU, Muhammadiyah, dan PGRI terkait polemik POP. 

"Dengan penuh rendah hati, saya memohon maaf atas segala keprihatinan yang timbul dan berharap agar tokoh dan pimpinan NU, Muhammadiyah dan PGRI bersedia untuk terus memberikan bimbingan dalam proses pelaksanaan program yang kami sadari betul masih belum sempurna," kata Nadiem dalam video dari Kemendikbud di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2020.

Nadiem sangat mengapresiasi sebesar-besarnya atas masukan dari pihak NU, Muhammadiyah, dan PGRI mengenai program organisasi penggerak.

"Ketiga organisasi ini telah berjasa di dunia pendidikan bahkan jauh sebelum negara ini berdiri. Tanpa pergerakan mereka dari Sabang sampai Merauke, identitas budaya dan misi dunia pendidikan di Indonesia tidak akan terbentuk," katanya.

Tentunya, lanjut dia, tanpa dukungan dan partisipasi semua pihak, mimpi bersama untuk menciptakan pendidikan berkualitas untuk penerus bangsa akan sulit tercapai. "Kami di Kemendikbud siap mendengar siap belajar," tambah pendiri Gojek itu. (art)