Antisipasi Klaster PTM, 29 Sekolah di Solo Gelar Tes Swab PCR

Dinkes Solo melakukan tes swab kepada puluhan siswa.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Fajar Sodiq (Solo)

VIVA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Solo melakukan tes swab polymerase chain reaction (PCR) secara acak kepada siswa di puluhan sekolah yang ada di Kota Solo. Tes diagnosis COVID-19 itu dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan pembelajaran tatap muka itu menyebabkan munculnya kasus COVID-19.

Pantauan VIVA, puluhan siswa SDN Mojosongo V dan VI yang dipilih secara acak tampak mengantre untuk mengikuti tes swab PCR yang dilakukan petugas Puskesmas Sibela, Mojosongo. Sebagian siswa itu pun terlihat takut saat akan menjalani swab yang pertama kalinya digelar di sekolah.
 
Tak pelak sejumlah guru terlihat mendampingi dan menyemangatinya ketika petugas medis mengambil sampel cairan dari nasofaring dan orofaring. Sebagian besar siswa mengeluarkan air mata menahan geli maupun sakit usai mengikuti tes swab PCR itu.

Uji swab itu tak hanya menyasar para siswa tapi juga guru. Dari masing-masing sekolah itu ada dua guru yang mengikuti tes swab acak itu. Sedangkan untuk siswa dua sekolah itu yang di-swab jumlahnya mencapai 30 anak.

Dinkes Solo melakukan tes swab kepada puluhan siswa.

Photo :
  • VIVA.co.id/ Fajar Sodiq (Solo)

Salah satu siswa kelas VI SD Mojosongo VI, Ayesa Xafa mengaku baru pertama kali mengikuti tes swab. “Ya awalnya takut dan deg-degan ketika tahu disuruh ikut swab. Tadi juga terasa geli aja,” ujarnya saat ditemui VIVA, usai menjalani tes swab di sekolahnya, Kamis, 14 Oktober 2021.

Sementara itu Kepala Dinkes Solo Siti Wahyuningsih menjelaskan, tes swab PCR yang menyasar para siswa di sejumlah sekolah itu merupakan program dari Kementerian Kesehatan. 

Program tes swab itu dilakukan untuk mengetahui kondisi para siswa, setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah yang berlangsung sejak September lalu.

“Tes swab PCR itu untuk evaluasi PTM. Harapannya tidak ada yang positif ya dengan patuh kepada protokol kesehatan. Nanti kalau seandainya terjadi apa-apa langsung kita tindaklanjuti segera,” katanya.

Dia menyebutkan, pihaknya telah menetapkan sebanyak 29 sekolah di Solo menjadi tempat pengambilan sampel. Hari pertama tes swab untuk pengambilan sampel telah dilakukan kemarin. 

Rencananya kegiatan untuk mendeteksi munculnya kasus COVID-19 di sekolah itu akan berlangsung hingga 21 Oktober 2021 mendatang. “Ini hari kedua jadi nanti ada jadwal dan sampelnya ditetapkan 29 sekolah. Mulai dari sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama dan sekolah lanjutan atas. Masing-masing sekolah sampelnya sudah ditentukan seperti di SD Mojosongo ini sampelnya 30 siswa,” ujarnya.

Tes swab PCR dengan sasaran para siswa peserta pembelajaran tatap muka itu nantinya akan dilakukan secara berkala. “Mungkin bulan depan akan dilakukan tes swab secara acak lagi,” ujarnya.

Program Kemenkes

Soal dipilihnya tes swab secara PCR, Wahyuningsih mengungkapkan, ketentuan itu telah menjadi program dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dengan tes swab PCR itu lantaran sensitivitas tes dengan cara tersebut merupakan yang terbaik dan bisa mendeteksi lebih dini jika muncul kasus COVID-19.
 
“Kalau swab antigen untuk deteksi infeksi akut.  Kan iki tidak ada gejala semua (siswa). Tidak ada gejala kemungkinan ada OTG. Yang terbaik memang PCR,” katanya.

Hingga hari ini, tes swab yang dilakukan secara acak di sejumlah sekolah belum ditemukan adanya kasus COVID-19. Meski demikian, Wahyuningsih kembali mengingatkan para siswa dan guru harus tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. 

Hal ini dilakukan agar kegiatan pembelajaran tatap muka tidak berdampak terhadap munculnya klaster baru. “Alhamdulillah tidak ada. Untuk mempertahankan ini harus ada kerjasama dari seluruh pihak sekolah dan orangtua. Kita juga sudah menekankan kepada Disdik untuk mengingatkan pentingnya prokes,” katanya.