Masjid Cheng Hoo, Simbol Multikultural Toleransi Umat Beragama

Masjid Cheng Hoo di Palembang, Sumatera Selatan.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Sadam Maulana (Palembang)

VIVA – Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, atau biasa disebut Masjid Cheng Hoo, menjadi salah satu bangunan rumah ibadah dengan gaya arsitektur khas yang memadukan tiga budaya berbeda. Masjid ini dibangun dengan nuansa Muslim Tionghoa.

Masjid Cheng Hoo punya desain arsitektur yang unik, memadukan unsur-unsur budaya lokal Palembang dengan nuansa Tionghoa dan Arab. Masjid yang dibangun di atas tanah 5.000 meter persegi ini berada di sebuah kompleks perumahan kelas menengah di kawasan 15 Ulu Jakabaring.

Bangunan Masjid Cheng Hoo merupakan salah satu simbol multikultural di Palembang yang menggambarkan toleransi umat beragama di Bumi Sriwijaya. Bahkan, dilihat dari kejauhan, desain masjid ini lebih mirip dengan kelenteng. 

Ya, jika orang tidak mengetahui, mereka akan mengira masjid ini sebagai kelenteng. Padahal Masjid Cheng Hoo merupakan sebuah rumah ibadah Islam dengan pusat kegiatan keagamaan di kawasan Seberang Ulu. 

Menurut Budayawan Palembang, Anwar Becak, Masjid Cheng Hoo menggambarkan bagaimana terjalinnya hubungan baik antara keturunan Tionghoa dan masyarakat lokal. Keberadaan masjid ini juga mencerminkan tokoh Islam asal Tiongkok pada masa lalu yang namanya kini diabadikan menjadi nama masjid ini. 

"Masyarakat Palembang memiliki banyak etnis, seperti dari Tionghoa, Arab dan beberapa etnis lain dengan perbedaan agamanya pula. Keberagaman ini menjadi kekayaan bagi Sumatera Selatan, terutama kota Palembang dengan menjunjung tinggi toleransi," katanya.

Anwar mengungkapkan, jika Masjid Cheng Hoo didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasihat, pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumatera Selatan, serta tokoh masyarakat Tionghoa yang sudah lama menetap di Palembang.

Fungsi Masjid Cheng Hoo sendiri lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid ini sering menghelat kegiatan-kegiatan agama dan kemasyarakatan, dan telah menjadi sebuah tujuan wisata, hingga menarik para pengunjung dari mancanegara.

"Masjid Cheng Hoo merupakan bukti bahwa di Indonesia ada ruang bagi para warga untuk mengekspresikan identitas unik, percampuran tradisi dan budaya," ujarnya.

Masjid Cheng Hoo di Palembang, Sumatera Selatan.

Photo :
  • VIVA.co.id/ Sadam Maulana (Palembang)

Selain rumah ibadah, di Sumatera Selatan juga ada desa yang menjadi contoh kerukunan umat beragama, yakni Desa Nusa Tunggal di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Pada tahun 2020, desa ini diikrarkan sebagai desa kerukunan umat beragama.

Di mana, desa ini dikenal dengan penduduknya yang memiliki keyakinan berbeda-beda, mulai dari agama Islam, Hindu, Buddha, Katolik dan Kristen. Meskipun memiliki perbedaan yang sangat mencolok dari segi kepercayaan, masyarakat desa ini sangat toleran dan hidup rukun serta saling menghormati satu sama lain.

Menurut Ketua FKUB OKU Timur kala itu, Maqbul Achsan, meskipun memiliki keyakinan yang berbeda, di desa tersebut belum pernah terjadi perselisihan sekecil apapun mengenai perbedaan keyakinan. 

"Keberadaan desa seperti ini sangat penting di era moderenisasi. Penduduk Desa Nusa Tunggal menjalankan peribadatan masing-masing dengan nyaman tanpa ada masalah. Desa ini menjadi contoh dengan agama yang paling lengkap. Dalam praktik kehidupan beragama, berbangsa dan bermasyarakat tidak pernah terjadi konflik," ujarnya.

Selain Nusa Tunggal, ada juga Desa Lubuk Seberuk di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Keharmonisan desa ini sudah terjalin sejak lama meski awalnya desa ini dibuka para pendatang.

Interaksi warga pendatang yang berasal dari beragam etnis dan agama, melebur dengan masyarakat pribumi dalam satu kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yaitu Desa Lubuk Seberuk.

Pernah ada pembangunan masjid di desa ini, semua masyarakat bergotong royong ikut membantu. Tak hanya umat Muslim, bahkan umat agama lain juga ikut membantu, baik berupa materi maupun imateri. Sebagian ada yang menyumbang uang, bahan bangunan dan juga tenaga. 

Bahkan, di Desa Lubuk Seberuk ada tradisi "Ruwatan Desa". Tradisi itu sampai sekarang masih dipertahankan. Acara yang melibatkan tokoh agama yang berperan menyampaikan doa-doa kepada Tuhan agar tetap diberikan kesejahteraan, keselamatan, dan kerukunan bagi penduduknya. 

Bahkan, pada perayaan hari keagamaan seperti Idul Fitri, Natal, Cap Go Meh, dan lainnya, selalu ramai disambut masyarakat. Contoh saja pada hari Cap Go Meh, masyarakat Kota Palembang yang mayoritas beragama Islam, juga turut meramaikan perayaan yang lebih dikenal sebagai hari penutup dari rangkaian perayaan tahun baru Imlek, yang biasa diperingati masyarakat Tionghoa. 

Perayaan Cap Go Meh juga dikenal sebagai salah satu hari besar bagi umat Buddha, di mana perayaan ini memiliki legenda pada era Dinasti Han (206 SM hingga 220 M) ketika para biksu Buddha menyalakan lentera pada hari ke-15 Imlek untuk menghormati Sang Buddha. 

Tapi, setiap tahunnya, perayaan Cap Go Meh di Palembang selalu diramaikan masyarakat dari berbagai golongan dan agama untuk berkunjung ke Pulau Kemaro. Pulau yang selalu menjadi tempat utama perayaan hari Cap Go Meh di Ibu Kota Sumatera Selatan.

Pengunjung yang datang bukan hanya orang Tionghoa, masyarakat yang datang berasal dari beragam daerah, agama, suku, ras, hingga turis lokal maupun mancanegara, turut meramaikan Cap Go Meh.

Atraksi barongsai di perayaan Cap Go Meh

Photo :
  • instagram.com/capgomehglodok2018/

"Banyak masyarakat dari latar belakang berbeda turut memeriahkan Cap Go Meh. Apalagi saat ini Cap Go Meh juga menjadi salah satu destinasi wisata tahunan yang selalu ditunggu. Karena bisa ribuan wisatawan hadir ke Pulau Kemaro untuk menyaksikan Cap Go Meh," kata Sekretaris Daerah Palembang, Ratu Dewa.

Zero Conflict  

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Selatan Aflatun Muchtar mengatakan, saat ini hubungan antar umat beragama berjalan dengan baik. Komunikasi intensif antara MUI dan FKUB pun terus terjalin.

"MUI di 17 Kabupaten Kota di Sumatera Selatan sangat mendukung untuk mensosialisasikan tri kerukunan agama, yaitu sesama umat beragama, antarumat beragama dan ke pemerintah," ujarnya.

Bahkan, menurut Aflatun, Sumatera Selatan sangat cocok jika dijadikan pilot project kawasan zero conflict dengan toleransi agama terbaik di Indonesia.

"Pantas saja jika Sumatera Selatan jadi pilot project, karena ulama dan tokoh agamanya sudah menanamkan nilai kerukunan. Serta kerja sama antar tokoh agama di bawah MUI sebagai tenda besarnya," katanya.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Selatan Aufa Syahrizal mengatakan, toleransi agama yang sudah tertanam di masyarakat juga menjadikan Sumatera Selatan sebagai salah satu daerah yang paling aman dikunjungi untuk wisatawan.

Bukan hanya destinasi wisata alam yang banyak dikunjungi, bahkan destinasi religi juga banyak menjadi perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara untuk datang ke Bumi Sriwijaya. 

Baginya, toleransi ini sudah menjadi 'KTP' bagi masyarakat Sumatera Selatan. Karena itu, penerus-penerus bangsa yang saat ini banyak terpengaruh oleh arus budaya asing, layaknya memahami dan terus menjaga identitas ini.

"Zero conflict menjadi hadiah dari toleransi agama, ras, dan keberagaman yang dimiliki Sumatera Selatan. Karenanya zero conflict tetap bertahan hingga saat ini," ujarnya.

Pengakuan zero conflict di Provinsi Sumatera Selatan memang bukan hanya sembarang julukan. Zero conflict memiliki arti jika di kawasan tersebut memang benar tidak terjadi perseteruan, baik antar suku, ras, dan juga antar agama. 

Terutama di Palembang, masyarakat yang terkenal memiliki sifat keras dengan nada bicara yang tinggi bukan menjadi acuan. Karena faktanya, Palembang yang memiliki ragam suku dan budaya, warganya bisa berdamai dengan perbedaan masing-masing.

Bahkan, rumah ibadah di Palembang bisa saling berdampingan tanpa ada yang merasa terusik satu sama lain. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru pun terus menggaungkan zero conflict dan toleransi beragama sebagai apa yang harus dipertahankan sebagai identitas.

Ia pun sangat mengapresiasi para pemuka agama di Sumatera Selatan yang bisa menjalin komunikasi dengan baik, demi tetap terjaganya kondusifitas wilayah. 

"Agama Islam, Kristiani, Katolik, Hindu, Budha, bahkan Konghucu bisa berdampingan di Sumatera Selatan. Untuk itu saya mengapresiasi para pemuka agama ini yang bisa tetap aktif dalam membangun kerukunan umat," kata Herman. 

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru

Photo :
  • Sadam Maulana/VIVA.co.id

Dia meminta FKUB terus meningkatkan perannya dalam mendorong kerukunan antar umat agama. Ia ingin agar kerukunan tersebut tetap terjaga.

"FKUB yang menjadi wadah untuk menjalin komunikasi tokoh agama, harus bisa mencegah terjadinya konflik mulai dari internal penganut agama, hingga kemudian mengatasi cikal bakal konflik yang mungkin bisa terjadi antar agama. Karena kerukunan ini modal utama hidup," katanya. 

Misi yang sama juga digaungkan FKUB Sumatera Selatan. "Menjaga kerukunan merupakan panggilan kemanusiaan. FKUB dibentuk untuk menjadi salah satu organisasi yang menjaga kerukunan antar umat beragama. Karena kita tahu, agama sering dijadikan alasan dalam konflik yang timbul. Ini yang harus kita cegah," kata Ketua FKUB Sumatera Selatan, Mal'an Abdullah.