Jokowi: Sopirnya Sudah Ganti 100 Kali Metromininya Masih Itu

Metromini di Jakarta.
Sumber :
  • VIVAnews/Fernando Randy
VIVA.co.id
- Presiden Joko Widodo menyinggung kisruh Metromini di DKI Jakarta, yang membuat Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok marah.


Presiden menyebutkan, Metromini di Jakarta terlalu riskan. Sebab, armadanya sudah lama, tapi tidak pernah diganti.


"Sudah jadi tugas kita bersama memberikan transportasi publik yang masyarakat ingin gunakan. Bukan yang mereka terpaksa gunakan. Ini saya ingat Metromini," kata Jokowi, saat penyerahan Penghargaan Wahana Tata Nugraha Tahun 2015, di Istana Negara, Jakarta, Rabu 23 Desember 2015.


Jokowi bercerita, saat tahun 1985 ke Jakarta setelah lulus kuliah, Jokowi sempat bekerja tujuh bulan di Jakarta. Untuk mencapai tempat kerja, dia harus berganti hingga tiga kali Metromini.


Setelah menjadi Gubernur DKI pada 2012 lalu, Jokowi kembali mengecek Metromini. Dia merasa yakin bahwa Metromini yang sekarang adalah yang ia tumpangi pada 1985 silam.


Termasuk saat mengecek
speedmeter
yang mati, menambah keyakinannya. Apalagi sistem rem yang harus dikompa terlebih dahulu. "Sopirnya sudah ganti 100 kali tapi Metromininya itu," ujar dia disambut tawa.


Untuk membuktikan ucapannya itu, Jokowi kemudian meminta Evan Sudiyan dari Syncrum Logistic sebagai awak kendaraan umum teladan, untuk maju ke depan.
Jokowi meminta pendapat Evan, yang juga pengguna Metromini sejak lima belas tahun lalu.


"Bagaimana menurut kamu soal Metromini?" tanya Jokowi serius.

Evan mengakui, Metromini identik dengan kebut-kebutan dan kejar setoran. Sehingga, faktor keselamatan seringkali terabaikan.


Yang penting, kata dia, setoran dapat dan diberikan ke keluarga atau istri. Kenyamanan dan keselamatan terabaikan.


"Benar kata bapak, Metromini kebetulan saya pengguna. Jadi Metromini sudah beberapa tahun ya itu-itu saja," ujar Evan. Dia mengaku, mau tidak mau menggunakan Metromini tersebut untuk transportasinya.


Atas penjelasan itu, Jokowi mengaku pernyataan Evan mengkonfirmasi apa yang sebelumnya dia sampaikan. "Itu yang ingin digunakan dan terpaksa. Itu yang terpaksa," terang Jokowi.