Kisah Pilu Lasmin, Empat Tahun Hidup dalam Pasungan

Lasmin, warga pengidap gangguan jiwa di Jawa Tengah yang dipasung di rumahnya.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto

VIVA.co.id – Apa yang menimpa Lasmin (30), warga Desa Wedarijaksa Kabupaten Pati, Jawa Tengah ini, sungguh tragis. Lantaran divonis mengalami gangguan jiwa dan dianggap membahayakan warga, nasibnya harus dipasung empat tahun lamanya di rumahnya sendiri.

Kondisi tragis pria ini bermula saat ia berusia 20 tahun dan divonis menderita penyakit kejiwaan atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Dalam derita pasungan itu, hidup Lasmin hanya bergantung pada Lasmi (70), ibu kandungya yang kini telah berusia senja. Meski hidup dalam serba keterbatasan, Lasmi dengan sabar merawat putra keduanya yang kini sakit jiwa. Sementara suaminya telah lama meninggal.

Siang itu, gubuk reot Lasmi tempat Lasmin menjalani pasungan mendadak ramai. Tak seperti biasa memang, rumah sempit dengan perabot sederhana itu banyak dikunjungi orang. Di antara kerumunan orang itu tampak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Pati, Haryanto.

Tak berlama-lama, Ganjar dan rombongan masuk di rumah reot milik Lasmi. Betapa terhenyaknya Ganjar saat melihat seorang pemuda yang tengah duduk dihimpit  kayu sepanjang 3 meter dengan tebal 60 sentimeter di kedua kakinya. Kayu pasung itu bahkan diikat rantai dan dikunci menggunakan empat baut berukuran besar di tiap sisinya.

"Bu, ini anak ibu sudah berapa lama dipasung begini? Dan kenapa harus dipasung?" tanya Ganjar kepada Lasmi.

"Sudah hampir empat tahun pak. Dulu sudah delapan kali dibawa ke rumah sakit jiwa. Sempat sembuh tapi sakit lagi. Karena sering ngamuk di lingkungan sini. Akhirnya warga minta agar dipasung," jawab Lasmi.

Diceritakan Lasmi, sakit jiwa yang diderita putranya bermula ketika, pria tamatan SMP itu tengah mengadu nasib di Bandung. Namun peristiwa tragis menimpa ia dan teman-temannya yang kala itu bekerja sebagai kuli bangunan.

"Di Bandung anak saya melihat orang-orang tawuran. Ada yang meninggal satu, pulang-pulang anak saya seperti trauma. Sempat sembuh dan bekerja di Kalimantan satu bulan. Tapi pulang-pulang sakit lagi hingga sekarang," kenang nenek berjilbab cokelat itu.

Sejak saat itu, Lasmi terpaksa harus mengurus segala kebutuhan putra keduanya itu yang dalam kondisi dipasung. Mulai dari menyediakan makanan,  memandikan, hingga memberikan obat dari Puskesmas.

"Dulu sebelum dipasung sempat dirantai pak. Sekarang sudah enggak ngamuk lagi. Tapi saya tidak berani melepas, karena warga tidak boleh. Alasannya takut kalau ngamuk lagi," ujar Lasmi menggunakan bahasa Jawa.

Mendengar cerita Lasmi, Ganjar pun mencoba berbincang-bincang dengan Lasmin. Tak seperti orang dengan kelainan jiwa, pria berkaus biru itu bahkan menjawab dengan benar pertanyaan gubernur. Mulai dari nama, usia, hingga pengalaman saat sekolah di SMP dulu.

"Mas, njenengan tak bawa berobat di rumah sakit mau?" tanya Ganjar, lalu dijawab seketika. "Mau pak, saya dilepaskan," ujar Lasmin sembari melepas senyum.

Ganjar menginginkan Lasmin dibawa ke rumah sakit jiwa di Semarang. Seketika warga sekitar dan TNI membongkar kayu pasungan yang membelenggu kakinya. Mantan anggota DPR itu juga meminta Bupati Pati agar memperbaiki rumah tidak layak milik Lasmi yang sangat memprihatinkan.  

"Kita harus cari solusi bersama. Jangan atas nama lingkungan terus (orang gila) dipasung begini. Atas dasar apapun salah itu," kata Ganjar.

Setelah dilepaskan dari pasungan, Lasmin pun akhirnya diangkut menggunakan mobil ambulans untuk dibawa ke rumah sakit jiwa.