'Pentagon' Versi Indonesia, Letaknya di Hutan

Aktivitas siswa di SMA Pentagon Kaur Bengkulu saat menerapkan praktik robotik bersama pesawat drone.
Sumber :
  • VIVA.co.id/www.sman10pentagonkaur.sch.id

VIVA.co.id – Pentagon, demikian tempat itu disematkan. Mirip dengan nama gedung tersohor bersegi lima, kantor Departemen Pertahanan dan Militer Amerika Serikat di Washington DC.

Namun, Pentagon versi Indonesia itu bukan untuk merancang strategi militer, apalagi untuk persiapan perang. Berada terpelosok di hutan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, Pentagon ini murni sekolah tempat menimba ilmu.

Tentunya, ini bukan tempat sembarangan. Meski terletak di hutan, sekolah bernama lengkap Sekolah Menengah Umum Negeri 10 Pentagon ini berstandar internasional.

"Ini satu-satunya di Indonesia sekolah menengah atas yang mempelajari Nano Technology dan Biotechnology," kata Bupati Kaur, Hermen Malik, pekan lalu.

Sesuai namanya, sekolah pentagon memang memiliki lima sisi. Ada 94 orang calon ilmuwan muda Indonesia tengah menuntut ilmu di sekolah ini.

Dalam praktiknya, untuk siswa yang ingin bersekolah di Pentagon harus melewati proses seleksi ketat. Mulai dari tes akademik, psikotes hingga ke kepribadian.

Sebab itu, sekolah ini hanya membatasi penerimaan siswa sebanyak 50 orang setiap tahunnya.

"Proses seleksi kita serahkan ke tim seleksi dari ITB dan hanya 50 siswa terbaik yang akan dipilih dan itu tanpa siswa cadangan," kata Kepala Dinas Diknas Kabupaten Kaur M Daud Abdullah.

Teknologi Nano Sampai Robot

Sekolah Pentagon menggunakan kurikulum kombinasi antara kurikulum nasional dan internasional yang mengacu pada kurikulum yang digunakan University of Cambridge, yakni universitas kedua tertua yang didirikan sejak 1209 di Britania Raya.

Menurut Kepala SMU Negeri 10 Pentagon Yeye Hendri, setiap harinya pembelajaran akan dilakukan selama 12 jam. Seluruh siswa akan dibimbing oleh pembimbing yang ditunjuk.

Secara prinsip, sekolah Pentagon memang hanya memfokuskan diri dalam pendidikan eksak dan memiliki empat ekstrakurikuler yang tidak dimiliki sekolah umum. Seperti Nano Technology, Biotechnology, Energi Baru dan Terbarukan serta pengetahun Robotik.

"Kami juga menghadirkan para pakar dari berbagai lembaga seperti LIPI, Puspitek, universitas dan lembaga lainnya setiap bulan," kata Yeye.

FOTO: Aktivitas siswa di SMA Pentagon mempraktikkan penggunaan drone

Daud Abdullah, Kepala Dinas Pendidikan setempat mengaku jika sekolah Pentagon meski sudah berstandar internasional dan memiliki puluhan pengajar berkelas.

Namun, seluruh biaya pendidikan yang dinikmati oleh siswa di sekolah yang didirkan sejak tahun 2013 ini ternyata gratis.

"Mereka hanya dibebankan biaya makan saja, sementara lainnya gratis tak ada pungutan lainnya," kata Daud.

Retno Wulandari, salah seorang siswa asal Lampung awalnya mengaku ragu dengan sekolah itu. Namun, sejak kini bergabung membuatnya semakin termotivasi untuk belajar.


"Awalnya saya ragu karena sekolahnya berada di hutan, setelah menjalaninya saya senang karena kegiatannya membuat kita tidak bosan," katanya.

Semangat Pendidikan

Kabupaten Kaur di Provinsi Bengkulu, merupakan wilayah yang berbatasan dengan Provinsi Lampung, berjarak 159 kilometer dari Kota Bengkulu.

Namun, daerah ini seolah menjadi daerah yang betul-betul mendorong semangat pendidikan ke seluruh masyarakat.

Di daerah ini, setidaknya ada empat sekolah mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah menengah Atas yang justru diberikan gratis namun digarap secara profesional.

Pendidikan Layanan Khusus Komplek (PLKK) misalnya. Sekolah ini dikhususkan untuk anak kurang beruntung dengan latar belakang korban konflik agraria, perkebunan, dan dari keluarga bermasalah.

Setidaknya ada 150 anak kini bersekolah disini. "Mereka korban dari kemiskinan dan keluarga yang berantakan, mereka mendapatkan pendidikan gratis dan tinggal di asrama," jelas ujar kepala PLKK Muktadin.

Kemudian ada SMP 15. Serupa dengan PPLK. Sekolah berasrama ini juga menampung anak dari keluarga kurang beruntung. Begitu pun di SMK Merdeka. Semuanya tidak ada biaya. Siswa hanya diwajibkan memiliki usaha yang fasilitas telah disiapkan sekolah. Seperti pengelolaan kopi, pembuat kerupuk, mesin jahit, dan lain-lain.

"Kami tak ingin ada anak putus sekolah karena faktor ekonomi. Jika ditemukan kasus seperti itu kami wajib menjemput mereka dan kami sekolahkan secara gratis," kata Bupati Kaur Hermen Malik. (ren)