Pakar Hidrologi: Yogya dan Sleman Bakal Krisis Air

Tugu Yogyakarta.
Sumber :
  • ANTARA/Noveradika

VIVA.co.id - Pakar Hidrologi pada Universitas Gadjah Mada (UGM), Setyawan Purnama memperingatkan bahwa separuh wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, bakal krisis air bersih. Penyebabnya adalah pertambahan jumlah penduduk, maraknya pembangunan hotel, mal, dan apartemen mewah.

Guru besar Fakultas Geografi itu menjelaskan, berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber daya Mineral DI Yogyakarta, penurunan muka air tanah mencapai 30 sentimeter per tahun di Kota Yogyakarta dan 15-30 sentimeter tiap tahun di Sleman.

Penurunan air tanah itu, katanya, terjadi di 28 titik yang berada di cekungan air tanah (CAT) Yogyakarta-Sleman. Beberapa di antaranya di Kecamatan Mlati, Kecamatan Ngemplak, Kecamatan Godean, Kecamatan Moyudan, Kecamatan Umbulharjo, Kecamatan Kotagede, dan Kecamatan Mergangsang.  

“Kalau per tahunnya, air tanah turun sampai tiga puluh sentimeter, maka dalam sepuluh tahun bisa turun hingga tiga meter,” kata Setyawan di Yogyakarta pada Jumat 2 September 2016.

Apabila masukan air tidak lebih banyak dari penggunaannya, dikhawatirkan terjadi krisis air bersih. Data Direktorat Tata Lingkungan, Geologi, dan Kawasan Pertambangan ESDM tahun 2011, menunjukkan potensi, atau ketersediaan air tanah dangkal di wilayah Yogyakarta-Sleman mencapai 604 juta meter kubik per tahun.

Sedangkan untuk tanah dalamnya sebesar sembilan juta meter kubik per tahun. Menurut Data Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Sleman mencapai 1.093.110 jiwa dan Kota Yogyakarta 388.637 jiwa. 

Iwan menjelaskan, kebutuhan air di wilayah perkotaan mencapai 130 liter per hari. Melihat potensi air yang ada, apabila tidak diimbangi dengan masukan air yang seimbang, dikhawatirkan terjadi kerawanan air secara meluas di Kota Yogyakarta dan Sleman. Ditambah lagi, laju pertambahan penduduk yang terus meningkat setiap tahun.

Penurunan air tanah, katanya, juga terjadi akibat berkurangnya daerah resapan, karena maraknya konversi lahan. Lahan-lahan terbuka semakin sulit ditemukan karena diubah fungsinya menjadi perumahan dan bangunan komersial, seperti mal, hotel, dan apartemen. Sejumlah wilayah resapan utama, seperti daerah Pakem, luasannya semakin berkurang karena pertambahan penduduk. 

Air menyusut

Mengenai maraknya pembangunan mal, hotel, dan apartemen yang ditengarai menjadi penyebab turunnya air tanah di  Yogyakarta dan Sleman, menurut Iwan, hotel dan apartemen sebenarnya telah melakukan pengeboran di air tanah dalam di bawah 40-110 meter.

Fenomena menyusutnya air tanah permukaan warga di sekitar hotel maupun apartemen dimungkinkan, karena lapisan lempung di antara air tanah dangkal yang sering disebut dengan formasi Yogyakarta dan air tanah dangkal yang dikenal dengan formasi Sleman tidak benar-benar kedap air. 

“Ada kebocoran di lapisan lempung antara formasi Yogyakarta dan formasi Sleman. Hasil analisis data bor di Kota Yogyakarta, menunjukkan pada wilayah Kota Yogyakarta, tidak ditemukan lapisan yang betul-betul kedap air, atau lapisan semi kedap air. Lapisan lempung ada yang bercampur dengan pasir sehingga tidak kedap air,” ujarnya. 

Hal tersebut, berpengaruh terhadap air tanah dangkal, atau sumur-sumur warga di atasanya. Sumur-sumur warga di sekitar bangunan hotel menyusut, bahkan tidak sedikit yang mengering. Kondisi itu juga berpengaruh terhadap penurunan air tanah secara global. (asp)