Lutung Desi-Luna Dites Kesehatan sebelum Dilepas ke Hutan

Seekor lutung Jawa di pusat rehabilitasi Javan Langur Center di kawasan Hutan Coban Talun, Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur, pada Jumat, 16 September 2016.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Lucky Aditya

VIVA.co.id - Tujuh ekor lutung Jawa terdiri lima betina dan dua jantan dites kesehatan setelah dikarantina di Javan Langur Center (JLC) di kawasan Hutan Coban Talun, Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur. Tujuh ekor lutung Jawa itu, antara lain, Eman, Mimi, Desi, Cici, Gimo, Ulfa, dan Luna.

Ketujuh lutung itu wajib menjalani pemeriksaan sebelum dilepas ke alam liar akhir September 2016. Mereka menjalani masa karantina selama enam bulan sejak April 2016. Prosedur tes kesehatan dan karantina agar satwa dilindungi itu terbebas dari penyakit menular, seperti tuberculosis dan hepatitis.

“Tujuh lutung ini akan dilepas di kawasan hutan Kondang Merak, Kabupaten Malang, akhir bulan nanti. Dan sebelum dilepasliarkan perlu dicek kondisi kesehatannya," kata Project Manager JLC, Iwan Kurniawan, pada Jumat, 16 September 2016.

Iwan menjelaskan, tujuh lutung itu didapat dari hasil penyitaan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan penyerahan langsung dari warga. "Pemeriksaan terakhir ini fokus penyakit tuberculosis dan kultur bakteri. Selama dikarantina, mereka sudah membentuk keluarga dan kelompok," katanya. 

Pelepasan lutung Jawa ke alam liar sebagai upaya pelestarian satwa langka itu. Lutung Jawa menjadi salah satu hewan dilindungi yang marak diburu warga. Mulai awal tahun 2016, ada 13 ekor lutung Jawa yang masuk ke JLC. 

Sebagian besar hasil penyitaan petugas dari tangan warga. Ada tiga wilayah yang menjadi pusat perdagangan lutung Jawa, yakni Surabaya, Malang, dan Ngawi. Sebagian besar yang diburu warga adalah lutung Jawa masih bayi. 

"Petugas BKSDA mengamankan lebih dari dua puluh lima ekor, tapi tidak semua masuk ke kami, karena sebagian meninggal saat perjalanan dan penyidikan," kata Iwan.

Untuk mendapatkan bayi lutung Jawa, pemburu harus lebih dahulu melumpuhkan induknya. Seekor bayi lutung dihargai cukup tinggi sekira-kira Rp700 ribu sampai Rp1,7 juta per ekor. 

"Dari penyidikan, alurnya bermula dari pengepul menerima pesanan dari pembeli. Kemudian pengepul menghubungi pemburu dengan pesanan yang sudah disepakati. Yang membuat sulit terlacak selama ini karena jaringannya berbeda-beda," ujar Iwan.

Di Jawa Timur, lutung Jawa tersebar di beberapa kawasan, di antaranya, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Taman Hutan Raden Soerjo, Gunung Baung, dan wilayah Malang selatan. Guna mengantisipasi perburuan liar, BKSDA dan polisi hutan rutin menggelar patroli di kawasan hutan tempat tinggal lutung Jawa.

Berdasarkan hasil survei tahun 2010, ada 2.700 ekor lutung Jawa di Jawa Timur. Jumlah itu dipastikan sudah menurun akibat tingginya perburuan.