Bocah Tewas di Sleman Belum Dipastikan Akibat Antraks

Kasus batu empedu sering ditangani lewat operasi besar.
Sumber :
  • REUTERS / Michael Buholzer

VIVA.co.id - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengerahkan tim untuk menyelidiki penyebab kematian seorang bocah yang diduga terjangkit virus antraks.

Semua hal yang dicurigai sebagai media penyebaran antraks telah diteliti, di antaranya, air sungai tempat bocah itu mandi dan kemudian demam tinggi serta kejang-kejang. Namun hasilnya negatif alias tidak ditemukan bakteri antraks pada sampel air.

Diteliti juga sebelas bocah yang mandi bersama anak itu. Bahkan, diperiksa juga sejumlah ternak yang dibawa anak itu saat mandi di sungai ataupun meminum air sungai. Hasilnya pun tak ditemukan bakteri antraks.

"Jadi, hanya anak itu (yang diduga terpapar virus antraks),” Bupati Sleman, Sri Purnomo, pada Senin 23 Januari 2017.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman masih menyelidiki lebih mendalam penyebab kematian bocah itu, akibat antraks atau faktor lain. Bupati meminta masyarakat tidak khawatir dan tidak panik dengan kabar dugaan antraks itu. Antraks, katanya, bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat. 

“Yang jelas lagi, antraks tidak menular dari manusia ke manusia,” ujarnya.

Seorang anak laki-laki berinisial H yang berusia 8 tahun meninggal dunia pada 6 Januari 2017. Dia meninggal diduga akibat terpapar virus antraks dan sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito di Yogyakarta selama selama enam hari. Rumah Sakit belum memastikan penyebab kematian bocah itu. (ren)