Polemik Pemimpin Non Muslim, Apa Kata Zakir Naik?

Dr Zakir Naik (kanan) dan Al Bukhari Wahid
Sumber :
  • Facebook Hanny Kristianto

VIVA.co.id – Cendekiawan Muslim asal India, DR Zakir Abdul Karim Naik mengunjungi Gedung Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat 31 Maret 2017. Kedatangannya untuk melakukan silahturahmi dengan pimpinan pusat MUI.

Bersama Ketua MUI Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri, KH Muhyiddin Junaidi, acara tersebut dihiasi dengan sesi tanya jawab. Salah satu peserta bahkan bertanya pendapatan DR Zakir Naik terkait pemimpin non-Muslim.

"Kalau pilihan mana yang lebih baik tentu saja pemimpin yang seiman. Tapi jangan melakukan hal yang tidak adil kepada non-Muslim selama mereka tidak mengusir kita dari rumah itu tersebut dalam Al Quran, bahkan kita harus berbuat baik terhadap non-Muslim," katanya.

DR Zakir Naik juga bercerita bila di negaranya, Ia dicintai oleh masyarakat non-Muslim. "Bahkan di negara saya justru non-Muslim mencintai saya, akan tetapi para pemimpin politik dan pimpinan negara yang membenci saya tapi rakyatnya sebagian besar mencintai saya," ujarnya.

Selain itu, KH Muhyiddin Junaidi menambahkan bila permasalahan yang ada saat ini bukan pada pemimpin non-Muslim.

"Memang yang dipertengkarkan dan dipermasalahkan saat ini adalah arti dari pada 'Aulia' yang lebih dari pada satu, bukan hanya pemimpin tapi juga  teman tapi juga pelindung dan sebagainya. MUI sebagai lembaga keagamaan tidak mempersalahkan tentang tafsir pada Aulia, tapi yang kami permasalahkan adalah kata-kata ayat 51 yang digunakan untuk membohongi, itu yang kita permasalahkan," kata KH Muhyiddin.