Seberapa Pantas TGB Bila Jadi Pendamping Jokowi

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Gubernur NTB TGB Zainul Majdi (kiri)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

VIVA – Daftar calon wakil presiden untuk Joko Widodo disebut sudah mengerucut. Salah satu nama yang mencuat adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang atau Muhammad Zainul Majdi.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi), Hendri Satrio menilai dari hasil riset Jokowi perlu pendamping religiusitas.

"Dari hasil survei, Jokowi itu belum diidentifikasikan punya religius yang tinggi, maka masyarakat menilai lendamping Jokowi yang religius," kata Hendri kepada VIVA, Senin, 23 Juli 2018.

Bagi Hendri, TGB memiliki kelebihan karena bermodal kepala daerah dua peride. Kemudian, faktor ulama membuat TGB dinilai memiliki basis pengikut.

"Keistimewaan dia selain ulama dia juga umara atau pemimpin daerah, 10 tahun dua periode. Nah, untuk voters, dia sudah punya pengikut dan punya loyalis," sebut Hendri.

Kemudian, TGB yang masih berusia potensial juga dinilai punya daya tarik dari suara milenial. Asalnya juga berasal dari luar Jawa. "Dia hafiz Alquran, muda, dan relatif bersih. Jadi kelebihan lain," ujar Hendri.

Mengacu hasil survei terakhir KedaiKOPI merilis nama-nama cawapres dari kalangan santri. Teratas dalam daftar adalah TGB Zainul Majdi (34,1%). Selanjutnya diikuti Romahurmuziy (27%), Muhaimin Iskandar (22,9%), Mohammad Mahfud MD (7%), Dien Syamsudin (6,1%), dan Said Aqil Siroj (2,9%).

Survei KedaiKOPI dilakukan di 10 provinsi dengan jumlah pemilih terbesar yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Banten, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan dan Riau. Jumlah responden dalam survei ini 1148 orang dengan MoE (Margin of Error) 2,89% pada interval kepercayaan 95%.

Kongsi Koalisi Pecah

Pengamat politik Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin memprediksi sebaliknya peluang TGB sulit menjadi pendamping Jokowi. Alasannya, bila TGB dipilih maka kongsi koalisi Jokowi terancam pecah.

"Sulit dan terlalu beresiko. Konsekuensinya kongsi koalisi. Apa iya PKB, Golkar, PPP terima TGB yang notabene kader Demokrat luar koalisi," ujar Ujang.

Ujang mengatakan meski dua periode menjadi Gubernur NTB, bukan jaminan TGB punya basis massa. Sebab, suara pemilih NTB tak sampai melebihi 3,5 juta.

"3,5 juta itu juga belum tentu dukung TGB. NTB itu masih kecil," tuturnya.