Jokowi Perlu Perbaiki Kepemimpinan Bukan Reshuffle

Presiden Joko Widodo
Sumber :
  • Agus Suparto/Biro Pers-Setpres

VIVA.co.id – Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Arief Poyuono menilai, perombakan atau reshuffle kabinet jilid II tak perlu dilakukan Presiden Joko Widodo. Sebab, masalah yang dialami pemerintah bukan terletak pada menteri kabinet, melainkan pada diri Presiden.

"Masalahnya hanya masalah leadership (kepemimpinan) kalau terjadi konflik, yang terpenting bukan reshuffle, tetapi bagaimana Jokowi sendiri bisa benar-benar memperlihatkan kemampuan leadership-nya," kata Arif usai diskusi soal Reshuffle Kabinet di Menteng, Jakarta, Minggu 14 Februari 2016.

Ia mengamati setelah reshuffle jilid I, pemerintahan Jokowi dinilai sudah membaik. Tetapi, belakangan justru kembali terjadi kekacauan, sehingga dia mempertanyakan tanggung jawab kesalahan itu ada pada ketidakmampuan menteri, atau kepemimpinan Jokowi?

"Ada pepatah katakan, ikan itu yang busuk bukan badan, tetapi kepalanya. Artinya, hal yang paling sensitif dalam sebuah kegagalan kinerja pemerintah itu pada pemimpinnya. Kalau Jokowi lakukan reshuffle kabinet, makin jelas bahwa memang Jokowi tidak punya kualitas leadership dalam memimpin anak buahnya di kabinet," kata Arief.

Apalagi, masa pemerintahan Jokowi hanya lima tahun. Kalau tiap tahun selalu ada reshuffle kabinet, tentunya akan memengaruhi kepercayaan pasar dan investor. Hal ini, karena setiap terjadi pergantian menteri, otomatis ada potensi pergantian aturan. 

"Menteri hanya jabatan politik, kalau memang Jokowi bisa driving, atau atur manajemen pemerintahan dan punya kemampuan, pemerintahan ini fine-fine saja. Jadi gubernur saja tidak selesai. Sekarang masih banjir dan macet. Tidak sesuai janji saat dia mencalonkan gubernur. Jadi, resuffle tidak ada gunanya. Maksimalkan saja yang ada," ujar Arief. (asp)