Jagung Didorong Jadi Bahan Baku Alternatif Pembuatan Etanol

Produksi jagung dalam negeri.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

VIVA – Tanaman jagung termasuk komoditas strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia. Kini, jagung tidak hanya sebagai makanan utama seperti beras, namun bisa dikonversi menjadi bahan bakar nabati (etanol) yang merupakan bagian dari energi alternatif.

Direktur Utama PT Molindo Raya Industrial, Arief Goenadibrata, mengaku jika perusahaannya akan menjadi pabrik etanol berbasis jagung satu-satunya di kawasan Asia Pasifik.

"Karena kita membuka pabrik di Lampung, yang mana tanaman jagung berlimpah di sini, maka selain menggunakan bahan baku tetest tebu, kita juga akan menggunakan jagung sebagai bahan baku alternatif," kata Arief, dalam keterangannya, Rabu, 1 Agustus 2018.

Hal ini tentu akan menambah daya saing perusahaan di pasar regional, sekaligus mendukung program ekspor. Molindo Raya Industial adalah pabrik yang telah memproduksi etanol dan spiritus sejak 1965 dengan kapasitas produksi food grade etanol sebesar 80 ribu kiloliter per tahun.

Dengan kapasitas produksi sebesar ini, Molindo menjadi produsen etanol terbesar di Indonesia dengan kualitas food grade.

Arief menambahkan kalau perusahaannya juga memproduksi food grade etanol dengan tingkat kemurnian tinggi hingga bisa mencapai 99,9 persen yang berlokasi di Desa Sumberwaras, Malang, Jawa Timur.

"Saat ini 65 persen produk kita dipasarkan di dalam negeri dan sisanya 35 persen diekspor, salah satunya ke Selandia Baru. Jadi, kita memimpin pasar etanol di dalam negeri," ungkapnya.

Belum lama ini, perusahaan baru melaksanakan peletakan batu pertama penanda awal pembangunan Unit Distilasi Etanol PT Molindo Raya Industrial Lampung Plant dengan kapasitas 50 juta liter/tahun dan nilai investasi sebesar Rp500 miliar.

Ketersediaan tetes tebu yang cukup banyak, selain tentunya jagung, di Lampung merupakan peluang pengembangan Unit Distilasi Etanol.

Produksi etanol Molindo dengan kualitas Prima dan Super serta Extra Super telah banyak dipakai oleh banyak perusahaan besar yang memproduksi rokok, farmasi dan obat-obatan, alat-alat kedokteran, kosmetik juga minuman beralkohol serta perusahaan percetakan.