Setelah Tanah Bergerak, Kini Ada Tanah 'Bernapas' yang Mirip Gempa

Tanah terbelah di Depok, Jawa Barat.
Sumber :
  • Zahrul Darmawan/VIVA.co.id

VIVA – Fenomena tanah bergerak belakangan ini sering terdengar. Terutama pasca-gempa di Palu beberapa waktu lalu. Bahkan di Depok, Jawa Barat, juga ada tanah terbelah. 

Peristiwa tak biasa tentang tanah tak berhenti sampai di situ. Baru-baru ini beredar video di Twitter, yang menggambarkan tanah di dalam hutan seperti sedang bernapas.

Seolah punya paru-paru yang bisa memompa udara, permukaan tanah yang ditumbuhi pohon dan rerumputan itu tampak naik-turun. 

Video yang viral di media sosial itu diambil pada awal Oktober di hutan Sacre-Coeur, Quebec, Kanada. Jika diamati, penampakan tanah bernapas itu mengingatkan kita pada adegan di dalam film fiksi.

Mungkin skenarionya tentang dewa hutan yang mengamuk, atau kawanan Ent di sekuel The Lord of the Rings

Tapi sebenarnya bukan itu. Menurut peneliti, sebagaimana dilaporkan laman Live Science, 25 Oktober 2018, tanah yang bernapas itu disebabkan oleh angin. 

"Selama hujan dan badai angin, tanah menjadi jenuh, 'melonggarkan' kohesi tanah dengan akar saat angin bertiup di atas mahkota pohon," kata Mark Vanderwouw, arborist atau ahli kesehatan pohon yang bertugas di Shady Lane Expert Tree Care di Ontario, Kanada, kepada The Weather Network. 

"Angin sedang mencoba untuk mendorong pohon-pohon di atas tanah, dan ketika kekuatan dipindahkan ke akar, tanah mulai 'terengah-engah'," dia menambahkan. 

Sederhananya, menurut Vanderwouw, sedang terjadi bentrokan antara angin versus akar, udara versus Bumi. Jika angin bertiup sedikit lebih keras atau bertahan sedikit lebih lama, akar kemungkinan akan mulai patah dan pohon menjadi roboh.

Di samping itu, pohon sebenarnya memang bernapas dengan menangkap CO2 dan menghasilkan oksigen melalui fotosintesis. 

Tanah bernapas juga, dengan cara yang lain. Mikroba-mikroba kecil yang hidup di bawah tanah 'memakan' CO2 yang disimpan di akar tanaman dan daun-daun yang mati, lalu melepaskan CO2 itu kembali ke udara.

Ini disebut respirasi tanah, dan itu telah terjadi lebih banyak dalam 25 tahun terakhir, berkat perubahan iklim.