RI Rawan Ancaman Siber, Perlu Pertahanan Ganda Berbasis Intelijen

Ilustrasi keamanan siber.
Sumber :
  • HIMSS

VIVA – Laporan Global Cybersecurity Index dari International Telecommunications Union Tahun 2017 menyebutkan Indonesia menempati urutan ke-70, atau masih berada di level maturing. Artinya, Indonesia belum termasuk ke dalam jajaran negara-negara Asia Pasifik yang dianggap memiliki komitmen tinggi dalam keamanan siber.

Berbeda dengan Australia yang sudah memasuki level leading, atau peduli dan berkomitmen tinggi terhadap keamanan siber. Apalagi, berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara Tahun 2018, melaporkan jika Indonesia mengalami lebih dari 200 juta serangan siber.

Oleh karena itu, setiap UKM, korporasi, BUMN, dan Managed Service Provider di Indonesia wajib mewaspadai serangan keamanan siber.

Perusahaan solusi teknologi sekuriti, Professtama Teknik Cemerlang bekerjasama dengan Red Piranha, perusahaan keamanan siber asal Australia, dalam memberikan edukasi dan solusi keamanan siber untuk UKM dan korporasi.

Menurut Founder dan Chairman Professtama, Sanny Suharli, perkembangan ancaman siber yang semakin kompleks, menjadikan salah satu tantangan terbesar adalah kebutuhan akan keamanan siber.

Hal ini mengingat besarnya biaya yang diperlukan terkadang menjadi hambatan, korporasi seringkali mengabaikan betapa pentingnya proteksi yang kuat terhadap ancaman keamanan siber.

"Saat ini kami telah menjual lebih dari satu juta CCTV di Indonesia. Pada kuartal I 2019, kami akan merambah segmen teknologi keamanan siber dengan memperkenalkan produk Crystal Eye dari Unified Threat Management atau UTM milik Red Piranha,” ungkap Sanny, lewat keterangannya, Jumat, 1 Maret 2019.

Ia mengatakan Crystal Eye mengedepankan sistem pertahanan berlapis. Platform ini dilengkapi dengan Next Generation Firewall (NGFW), intelijen pendeteksi ancaman aktif, serta penyimpanan logaritma jangka panjang hingga 20 Terabyte.

Sistem intelijen pendeteksi ancaman aktif Crystal Eye mampu memproses lebih dari 14 juta indikator ancaman (IOC) per hari, dengan kemampuan analisa dan visibilitas aktual yang memungkinkan penanganan ancaman secara otomatis.

Sementara itu, Direktur Red Piranha, Richard Baker menuturkan, potensi kerugian akibat ancaman siber begitu besar. Insiden siber dan interupsi bisnis menempati posisi pertama dan kedua dengan takaran yang sama, yaitu 37 persen, dalam Top 10 Global Business Risks berdasarkan Allianz Risk Barometer Tahun 2019.

"Platform Crystal Eye merupakan Unified Thread Management pertama kami yang bisa disesuaikan oleh kebutuhan UKM maupun korporasi. Kami melihat secara global peretasan informasi (data breaches) menimbulkan kerugian sebesar Rp20,4 miliar hingga Rp52,7 miliar per kasus. Lima tahun ke depan angka ini bakal meningkat lagi," jelas Baker. (ann)