Mengenal Batik Tanah Liat, Busana para Datuk Minangkabau

Batik tanah liek atau tanah liat khas Minangkabau produksi Wirda Hanim di Kota Padang, Sumatera Barat.
Sumber :
  • Batiktanahliek.co.id

VIVA.co.id - Sumatera Barat ternyata juga memiliki warisan budaya batik yang sangat unik. Batik khas Minangkabau dinamai dengan batik tanah liek atau tanah liat. Corak dan warnanya tak kalah dengan batik Jawa.

Sesungguhnya belum diketahui pasti asal-muasal batik tanah liek. Namun diperkirakan sejak tahun 1994, keberadaan dan geliat batik tanah liat diketahui dan berkembang pesat.

Wirda Hanim-lah yang disebut mempopulerkan batik tanah liek, bahkan terus berkembang hingga menembus pasar internasional. Wanita berusia 63 tahun kelahiran Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, itu mengenalkan batik tanah liek melalui galerinya di Jalan Sawahan Dalam, Kota Padang.

FOTO: Batik tanah liek atau tanah liat khas Minangkabau produksi Wirda Hanim di Kota Padang, Sumatera Barat. (Batiktanahliek.co.id)

Wirda menceritakan, awal ia mengembangkan batik tanah liek, usai menyaksikan acara adat di kampung halamannya pada tahun 1993. Kala itu, Wirda melihat kain yang dikenakan para datuk dan bundo kanduang tampak kusam dan banyak yang robek karena lapuk dimakan usia.

Wirda saat itu melihat corak nan warna kain sangat unik dan jarang dijumpai. Setelah mencari informasi tentang kain apa yang dikenakan, dia mengetahui bahwa itu batik tanah liek. Tapi, konon tak lagi diproduksi sejak tahun 1970-an.

Meniru corak

Sekira tahun 1994 Wirda bertekad memproduksi lagi batik tanah liat. Dia menelusuri sejarah batik tanah liek, termasuk bahan dasar pewarna hingga motif yang dipakai. Namun tak banyak yang didapat, tak satu pun bundo kanduang di sana yang dapat menjelaskan muasal batik tanah liek. Ia hanya mendapatkan info sekilas bahwa batik tanah liat juga dipengaruhi budaya Tiongkok.

FOTO: Batik tanah liek atau tanah liat khas Minangkabau produksi Wirda Hanim di Kota Padang, Sumatera Barat. (Batiktanahliek.co.id)

Walau informasinya tak memadai, niat Wirda untuk membuat dan mengembangkan batik tanah liek tak surut. Dia mencoba membuat ulang motif kain kuno di atas kertas. Dia juga membuat motif yang terdapat di Rumah Gadang. Semua ia lakukan selama enam bulan.

“Sambil menunggu jalan keluarnya, saya tetap mencari dan meniru motif-motif dari kain batik tanah liek kuno di kampung saya. Motif kuno tersebut adalah kuda laut dan burung hong. Di samping itu, saya juga mengambil motif Minang dari ukiran dan pakaian, serta membuat motif-motif baru yang sebagian perpaduan dari motif-motif itu,” katanya.

Pada tahun 1995, Wirda meminta izin kepada suaminya, Ruslan Majid, untuk pergi ke Yogyakarta demi belajar batik di sana. Namun dia bertahan dua hari saja dan memutuskan kembali ke Padang. Dia lantas melakukan sejumlah eksperimen dengan menghabiskan modal yang cukup banyak. Mulai membeli bahan kain sutera, obat-obatan batik serta peralatan membatik.

Akhirnya, Wirda ingat tentang pelajaran yang ia dapati soal membuat warna hiasan kue, ketika ia ikut les membuat kue pengantin dan kue ulang tahun di Jakarta. Uji coba dengan warna kimia untuk batik pun ia mulai dan mencari warna yang sesuai dan mirip tanah liek. Dari sepuluh lembar kain, yang masing-masing berukuran dua meter, hanya dua lembar yang menyerupai warna batik tanah liek.

Wirda terus bereksperimen warna agar dapat menemukan kombinasi warna yang pas dengan warna tanah liek. Hingga pada suatu waktu, ketika Wirda pulang ke kampung halamannya, ia mendapatkan informasi dari seorang ibu yang menyebutkan batik tanah liek pada dasarnya diwarnai dengan tanah dan motifnya diwarnai dengan tumbuh-tumbuhan seperti gambir, rambutan, pinang.

Berdasarkan informasi itulah, Wirda mencoba mencari tahu sistem pembuatan, campuran hingga ketahanannya. Alhasil, setelah sepuluh tahun mencoba, dia mendapatkan paduan warna yang cocok dari zat yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan. Agar tidak ada yang menjiplak karyanya, Wirda mematenkan temuannya dengan nama Batik Tanah Liek.

Proses pembuatan

Untuk menghasilkan batik tanah liek yang sesuai keinginan, membutuhkan waktu cukup lama. Bahkan ada yang sampai seminggu, karena harus melalui sejumlah tahapan, di antaranya pemilihan jenis kain yang sesuai dengan kebutuhan atau permintaan.

FOTO: Batik tanah liek atau tanah liat khas Minangkabau produksi Wirda Hanim di Kota Padang, Sumatera Barat. (VIVA.co.id/Andri Mardiansyah)

Setelah itu, kain direndam dalam larutan tanah liat. Tanah liat yang digunakan dapat berupa tanah liat kehitaman atau kuning kemerahan. Kian lama perendaman, makin pekat warna yang dihasilkan, dan dijemur tidak langsung terkena matahari.

Setelah kering, kain itu diukir atau dilukis sesuai dengan motif yang diinginkan. Pengaplikasian motif ke kain menggunakan pensil yang dapat memudar. Barulah kemudian dicanting menggunakan lilin.

Setelah semua proses selesai, kain masuk tahapan pewarnaan dengan pewarna alami dari getah kulit buah atau tumbuhan yang sudah ditentukan. Proses itu disebut mencolet. Kemudian pengikatan warna alam menggunakan larutan kimia.

Tak cukup sampai di situ. Kain itu harus melewati proses melorot atau merebus kain dalam sebuah wadah untuk melunturkan lilin atau malamnya. Kain lalu dibilas dan dijemur di tempat teduh. Setelah itu barulah bisa dipasarkan.

Sejak sukses mengembangkan batik tanah liek, Wirda terus berinovasi, termasuk mengaplikasikan ke bentuk lain seperti baju, selendang, dan kain sarung.

"Untuk motif saya gunakan motif asli ukiran Minangkabau, di antaranya siriah dalam carano, kaluak paku, kuciang tidua, lokcan, batuang kayu, tari piriang dan kipeh. Selain itu pewarnaan alami tetap dipertahankan untuk mengisi motif-motif ukiran tersebut. Pewarnaan yang digunakan bisa dari kulit buahan bergetah kuat seperti gambir, manggis, dan jengkol, rambutan," ujarnya.