Tradisi Adu Jantan di Lombok Mirip dengan Pemanggil Hujan di Madura

Tari Peresean di Kampung Sade, Lombok Tengah, NTB
Sumber :
  • VIVA.co.id/Nur Faishal

VIVA – Indonesia unik karena ragam budaya dan tradisinya. Kendati beragam, satu sama lain ada yang terlihat hampir sama. Nah, salah satu tradisi yang tampak mirip ialah Tari Peresean pada Suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan tari Ojung di Madura, Jawa Timur.

Suara musik tradisional seperti gamelan menyambut VIVA dan beberapa rombongan kala sampai di pintu gerbang Kampung Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, Rabu siang, 10 Oktober 2018. Warga kampung lantas mengarahkan kami ke halaman tak begitu luas, tepat di depan rumah beratap alang-alang.

Sejenak kemudian, dua pria bertelanjang dada dan bersarung maju ke halaman. Kepala mereka sama-sama berikat kain tenun. Tangan kiri mereka kemudian memegang perisai atau tameng berbentuk segi empat yang tergeletak di halaman, sementara tangan kanan memegang batang rotan sepanjang 1,5 meter. Tabuhan kembali bertalu-talu.

Seorang pria kemudian maju ke tengah, memosisikan diri antara dua pria bertelanjang dada. Dia semacam wasit. Ketiganya bergoyang-goyang mengikuti irama tabuhan gamelan. Begitu si pria itu memberi aba-aba, dua pria yang bertelanjang dada saling pukul dan tangkis, seperti bertarung.

"Ini namanya tari Peresean, biasanya kami mainkan untuk menyambut tamu, semacam tari penyambutan," kata Ditok (28 tahun), pemuda setempat kepada VIVA di Kampung Sade, Lombok, NTB.

Dia bercerita, tari Peresean mengisahkan tentang adu ketangkasan para pria suku Sasak atau prajurit sebelum bertempur ke medan perang. Kala itu, belum disebut pria jika tidak berani beradu tangkas.

"Tarian ini menggunakan dua alat, tameng dari kulit kerbau, di sini namanya kindi, dan pemukul dari rotan, namanya penjalin," ujar Ditok.

Adapun musik yang mengiringi biasanya terdiri dari lima alat musik, yakni kedumbak atau gendang, rereong, ketut, rerincik, dan gong. Ditok menyebut musik tradisional itu dengan gamelan. "Ada juga tarian penyambut yang lain di sini, namanya Gendang Belik," kata Ditok.

Menyaksikan Tari Peresean, VIVA teringat dengan tradisi hampir mirip dari Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep. Namanya tari Ojung. Tarian ini juga dimainkan dua pria bertelanjang dada dan bersarung. Alat pemukulnya juga dari rotan atau penjalin. Bedanya, alat penangkis pukulan yang dipakai petarung bukan perisai dari kulit kerbau atau sapi.

"Tamengnya dari (karung) goni," kata budayawan Madura, Tajul Arifin kepada VIVA.

Saat bermain, petarung Ojung melilitkan goni ke lengan kiri, sementara tangan kanan memegang penjalin. Bagian kepala juga dilindungi dengan goni yang berbentuk seperti helm.

Cara bermainnya juga sama dengan Peresean. Kedua petarung adu pukul dan menahan serangan sambil sesekali bergoyang. Musik tradisional bernama thong-thong jadi pemompa semangat petarung saat ber-ojung.

"Sampai sekarang tradisi Ojung masih ada di Sumenep," ujar Tajul.

Adakah kaitannya antara Peresean di Lombok dengan Ojung di Madura? Tajul menjelaskan, sekitar abad ke-14, salah satu putra dari Sunan Lembayung (Fadhal As-Samarqandy) di Pulau Sapudi (masuk administrasi Kabupaten Sumenep), yakni Sunan Manyuran menyiarkan Islam di Lombok. "Makanya juga dikenal Sunan Mandalika," katanya.

Tajul menduga, kemiripan tradisi Peresean dengan Ojung karena pertalian sejarah masa lalu antara Madura dengan Mandalika, Pulau Lombok. "Jadi, kalau di Lombok itu ada tradisi seperti di Madura, wajar karena satu aliran," kata Tajul.

Namun berbeda dengan Peresean, tradisi Ojung tidak ada kaitannya dengan medan pertempuran. Tajul menjelaskan, Ojung bermula dari cerita tiga pemuda yang tengah mencari air di kawasan tandus di Topoteh (Batu Putih). Di sana mereka menemukan sumber air. Entah bagaimana, dua di antaranya saling berebut air.

"Dua pemuda itu saling pukul dengan menjalin (rotan)," ucapnya.

Kendati dihalangi, dua pemuda tetap saling pukul. Nah, di tengah-tengah pergumulan itu, tiba-tiba turun hujan. "Makanya tradisi Ojung di Madura biasanya identik dengan tradisi pemanggil hujan," kata Tajul. (hd)