Pria Prancis Ajari Tata Krama Orang Tajir China

Guillaume Rue de Bernadac
Sumber :
  • nextshark.com

VIVA – Seorang wirausahawan Prancis, bernama Guillaume Rue de Bernadac punya pekerjaan yang tak biasa, yaitu mengajari tata krama dalam menikmati segala fasilitas kelas atas dengan elegan kepada warga China.

Pria yang kini tinggal di Shanghai itu mendirikan Academie de Bernadac pada tahun 2015. Akademi ini mengajarkan kepada elit China untuk menjadi pria dan wanita modern abad 21.

Dilansir dari laman Nextshark, para klien Academie beragam mulai dari institusi finansial hingga perusahaan hotel dan restoran, serta individual. Semua kliennya itu berharap dapat memperbaiki etiket mereka.

"Saya membuka kelas dari bagian paling utara hingga selatan China, dan semua tipe kota di China memiliki potensi luar biasa untuk kemewahan," ujar Bernadac kepada The Luxury Conversation, awal tahun ini.

Hal itu pula yang mendorongnya membuka program baru 'Warisan Aristokratis': sebuah program tiga hari yang berisi pelajaran tata krama makan malam, sikap, tata krama sosial, dan lainnya. Mereka mengajak para tamu untuk menciptakan standar keluarga mereka sendiri untuk diwariskan generasi berikutnya.

Meski bukan keturunan kerajaan, de Bernadac belajar aturan etiket sejak kecil, semua berkat kakek dan neneknya. Kakek buyutnya, Joseph de Bernadac melatih pangeran dan putri Maroko pada pemerintahan Mohammed V. Ia mengajarkan mengenai savoir-vivre, istilah Prancis yang artinya mengetahui cara hidup.

Setiap hari Minggu, de Bernadac kecil dan kakaknya selalu makan siang di tempat kakeknya. Sementara neneknya, Julienne de Bernadac, akan mengikatkan pita di sekitar bahu mereka dan menjepitkan selembar kertas di ketiak supaya mereka bisa menjaga postur yang benar saat makan.

Sekarang, de Bernadac menularkan ilmunya ke para pelanggan tajir di China, yang diyakini sudah semakin memiliki pengetahuan luas seiring waktu. Ia mengajarkan sikap dalam berbagai keadaan, mulai dari makan, berpakaian hingga berbicara.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan South China Morning Post, de Bernadac menceritakan bahwa ia mengajarkan cara memegang cangkir dengan benar (cubit kupingnya, tidak memasukkan jari ke pegangannya untuk membuatnya terlihat lebih panjang), mengaduk teh (tidak melingkar dan menyenggol pinggirannya, tapi aduk dari depan ke belakang), dan cara duduk untuk membuat kaki terlihat lebih jenjang (silangkan kaki dan miringkan ke satu sisi).

"Anda harus tahu apa yang bisa Anda lakukan dan tidak. Menjadi wanita dan pria modern di abad 21 artinya tahu aturan, dan selalu mengetahui kapan memulainya," kata de Bernadac.

Menyadari bahwa setiap budaya, masyarakat, dan situasi punya tradisi sosial tersendiri, kelas de Bernadac juga dibuat menyesuaikan kebutuhan warga asing.

"Biasanya semakin tinggi kelas Anda di sebuah masyarakat, semakin canggih dan rumit serta ketat etiketnya. Ini yang kami ajarkan dan kenapa kami di sini. Kami ingin mengajarkan orang bagaimana beradaptasi jika mereka berhadapan dengan masyarakat kelas atas di luar negeri," tuturnya.